Riset Ungkap: 1 dari 7 Anak Indonesia Terancam Timbal dari Cat hingga Alat Makan

- Jumat, 23 Januari 2026 | 19:12 WIB
Riset Ungkap: 1 dari 7 Anak Indonesia Terancam Timbal dari Cat hingga Alat Makan

Lingkungan sekitar kita, yang kadang luput dari perhatian, ternyata bisa jadi sumber masalah kesehatan anak. Salah satu ancaman tersembunyi itu adalah timbal. Logam berat ini memang tak kasat mata, tapi efeknya bisa sangat nyata.

Apa sih timbal itu? Secara singkat, ini logam lunak yang sering dipakai untuk melindungi logam lain dari karat. Masalahnya, kandungan racunnya tinggi banget. Partikelnya mudah beterbangan di udara, lalu mencemari darah manusia. Kalau sudah terpapar, dampak buruknya bisa dengan mudah menimpa siapa saja.

Nah, temuan terbaru dari sebuah penelitian cukup bikin kita semua waspada. Penelitian ini digarap bersama oleh Kementerian Kesehatan, BRIN, lalu ada juga Yayasan Pure Earth Indonesia dan Vital Strategies. Hasilnya? Sungguh mengkhawatirkan.

Surveilans Kadar Timbal Darah (SKTD) Tahap Pertama mengungkap, 1 dari 7 anak di Indonesia punya kadar timbal dalam darahnya melebihi 5 mikrogram per desiliter. Angka itu bukan main-main itu adalah ambang batas yang ditetapkan Kemenkes dan WHO untuk segera dilakukan intervensi, baik secara klinis maupun lingkungan.

Yang menarik, risikonya ternyata lebih besar pada anak yang tinggal di rumah dengan cat terkelupas. Risikonya naik 61%! Sementara itu, faktor lain seperti pekerjaan orang tua yang berkaitan dengan timbal, penggunaan alat masak logam tertentu, sampai pemakaian bedak atau kosmetik, berkontribusi menaikkan kadar timbal darah anak sekitar 7–10%.

Di sisi lain, ada kabar baik. Akses pendidikan yang lebih tinggi dan tingkat pendapatan keluarga yang lebih baik ternyata berkaitan dengan kadar timbal darah anak yang lebih rendah. Survei ini sendiri dilakukan dari Mei hingga November 2025, melibatkan lebih dari 1.600 anak usia balita di enam provinsi.

Dampak Serius dan Sumber yang Tak Terduga

Paparan timbal, terutama pada anak-anak, dampaknya serius. Bisa mengganggu tumbuh kembang, menurunkan IQ, bahkan memicu masalah kesehatan jangka panjang. Parahnya, paparan ini sering kali tak bergejala klinis yang jelas. Karena sifatnya yang kronis dan berpotensi permanen, deteksi dini dan pelacakan sumbernya jadi kunci.

Menurut Dr. dr. Then Suyanti, MM, Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, SKTD memberikan gambaran awal yang penting tentang seberapa luas masalah ini dan faktor risikonya.

“Data prevalensi kadar timbal darah dan potensi sumber utama paparan timbal sangat penting sebagai dasar perumusan kebijakan yang tepat sasaran. Tanpa data, upaya pencegahan akan sulit diukur dan dievaluasi,” jelas dr. Then.

Survei ini berhasil mengidentifikasi sumber paparan di lingkungan rumah. Lebih dari 20 persen sampel alat masak logam, alat makan dari keramik dan plastik, kosmetik, pakaian, bahkan mainan anak, mengandung timbal melebihi batas aman. Tak hanya itu, setiap kenaikan dua kali lipat kadar timbal di tanah, rata-rata kadar timbal darah anak naik 8 persen.

Edwin Siswono, epidemiolog dari Vital Strategies, menambahkan, temuan ini jadi landasan strategi efektif untuk mengurangi paparan.

“Temuan ini akan melengkapi keberhasilan Indonesia sebagai salah satu negara pertama yang mengembangkan pedoman klinis penanganan keracunan timbal yang selaras dengan rekomendasi WHO,” ungkapnya.

dr. Then menekankan, hasil SKTD ini menunjukkan bahwa penanganannya tak bisa dibebankan hanya pada sektor kesehatan. Perlu kolaborasi yang kuat.

“Dari hasil SKTD ini kita bisa melihat bahwa upaya pencegahan paparan timbal tidak dapat dilakukan oleh sektor kesehatan saja. Diperlukan kerja bersama lintas sektor... Hasil SKTD ini tentunya juga diharapkan bisa mendukung penyusunan Rencana Aksi Nasional (RAN) Indonesia Bebas Timbal,” tutupnya.

Jadi, masalah ini kompleks. Butuh kerja sama banyak pihak, dari kesehatan, lingkungan, industri, sampai perdagangan. Agar upaya pencegahan tak sekadar wacana, tapi benar-benar konkret dan berkelanjutan.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar