Kalau ada yang bilang anak-anak Gen Alpha itu bikin pusing, mungkin itu benar. Tapi bukan tanpa alasan. Rasa ingin tahu mereka luar biasa tinggi, melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang kadang bikin orang tua cuma bisa mengernyit. Mulai dari hal-hal yang unik sampai protes kecil tentang pilihan kita sebagai orang tua, semuanya serba tak terduga. Nah, di sinilah tantangannya: bagaimana kita merespons?
Menurut Rizqina Ardiwijaya, Psikolog Klinis Anak dari Rumah Dandelion, justru di celotehan-celotehan itu tersimpan peluang. Setiap ocehan, tanya, atau bahkan bantahan mereka adalah pintu masuk untuk terhubung dan membimbing mereka memahami dunia yang ruwet ini.
“Setiap celotehan anak itu adalah kesempatan untuk ngobrol, untuk connect, dan mengajarkan mereka untuk menavigasi dunia yang kompleks ini. Jadi, jangan lelah ya untuk merespon celotehan-celotehan Gen Alpha ini,”
Ujarnya pada Senin, 5 Januari. Lalu, bagaimana caranya agar obrolan itu produktif dan tidak berujung pada buntunya komunikasi?
Panduan Menyikapi Celotehan 'Ajaib' Si Kecil
Dengarkan Dulu, Baru Jelaskan
Poin pertama ini krusial. Saat anak memprotes atau emosinya meledak, jangan buru-buru memberi nasihat. Validasi perasaannya dulu. Biarkan ia merasa didengarkan. Setelah emosi mereda, baru kita kasih penjelasan dengan bahasa yang sederhana dan contoh yang nyata.
Rizqina memberi ilustrasi. Katakan saja, “Oh iya, kamu maunya ibu pake baju rumah ya? Kamu gak suka ibu pake baju ini?” Setelah itu, tenangkan. Lalu tanyakan, “Kalau kamu berenang, kamu pake apa? Kalau mau tidur, pake baju apa? Nah ini juga sama. Ibu sekarang mau ke pesta, jadi pakenya baju pesta.”
Ambil Contoh dari Sekitar Mereka
Agar penjelasan kita nempel di benak anak, ambillah contoh dari keseharian mereka. Bandingkan situasi yang sedang terjadi dengan aktivitas yang sudah mereka kenal. Cara ini jauh lebih efektif ketimbang sekadar memberi instruksi. Anak pun lambat laun paham bahwa konteks itu penting, dan aturan bisa berbeda di situasi yang berbeda pula.
Kenalkan Batasan dan Hargai Pilihan
Di sisi lain, Rizqina menekankan soal boundaries. Ini perlu diajarkan sejak dini. Anak harus paham bahwa setiap orang punya pilihannya sendiri, termasuk orang tua. Sampaikan dengan lembut, agar mereka belajar menghargai perbedaan dan menerima bahwa keinginannya tak selalu bisa dituruti.
“Katakan ‘Ibu tahu kamu inginnya ibu pakai baju sehari-hari, tapi hari ini ini pilihan baju ibu dan baju ini cocok kok. Sama kayak kamu, kan kamu juga suka pilih baju superhero ya kalau mau ke sekolah’,”
sarannya.
Terima, Lalu Arahkan Perlahan
Bagaimana kalau pemikiran anak itu keliru? Jangan langsung disalahkan. Itu hanya akan membuatnya menutup diri. Coba terima dulu sudut pandangnya, baru perlahan kita arahkan pemahamannya lewat pertanyaan atau penjelasan yang tepat.
Pendekatan ini mendorong anak untuk berpikir lebih kritis. Rizqina mencontohkan, “Oh, kamu tuh maunya kayak Ultraman ya. Gak punya temen, punyanya musuh. Emang musuh tuh apa sih? Kalau di Ultraman, musuh tuh monster yang jahat. Kalau di sekolah, ada gak yang kayak gitu?”
Intinya, semua butuh proses. Hadapi dengan sabar, karena setiap celotehan seberapapun ajaibnya adalah benih untuk percakapan yang lebih dalam.
Artikel Terkait
Awkarin Sindir Balik Geng Reza Arap Usai Dikaitkan dengan Sindiran Fisik
Jam Kerja Dipangkas Selama Ramadan, Aturan Berbeda di Indonesia dan Timur Tengah
Presiden Prabowo Teken Perpres SMA Unggul Garuda untuk Cetak SDM Unggul
Jalan Kramat Senen Ramai Pemburu Takjil Nasi Kapau Jelang Buka Puasa