Setelah lebih dari dua dekade, Komnas Perempuan akhirnya memperbarui Peta Kekerasan Pengalaman Perempuan mereka. Versi terakhirnya masih dari tahun 2002, zaman yang terasa sangat lama sekali. Peluncuran tahap awal buku yang diperbarui ini dilakukan secara virtual, tepatnya pada Senin lalu.
Intinya, buku ini berusaha memetakan berbagai bentuk kekerasan yang dihadapi perempuan di negeri ini. Disebut "peta", karena Komnas Perempuan mencoba menggambarkan situasi nyata lewat survei dan olahan data. Tujuannya jelas: agar publik bisa lebih paham betapa rumitnya persoalan kekerasan terhadap perempuan.
Dan memang, kerumitan itu nyata. Banyak sekali bentuk kekerasan yang masih tersembunyi, terlindungi oleh sistem hukum, ekonomi, bahkan nilai-nilai agama dan adat. Hal-hal seperti inilah yang seringkali membuat korban sulit untuk bicara.
Nah, dalam proses pembaruannya, Ketua Resource Center Komnas Perempuan, Chatarina Pancer Istiyani, mengakui satu hal. Pola kekerasan terhadap perempuan sekarang ini jauh lebih kompleks ketimbang dua puluh tahun lalu.
Tak Hanya di Rumah Tangga
Chatarina lalu menjabarkan lebih detail. Kekerasan di ranah personal ternyata cakupannya luas. Bukan cuma terjadi pada istri atau anak perempuan di dalam rumah, tapi juga dalam hubungan pacaran, mantan pasangan, dan relasi personal lainnya.
Artikel Terkait
Tempe Naik Kelas: Riset BRIN Ungkap Potensi Superfood Asli Indonesia
Cokelat Hitam dan Rahasia Awet Muda: Antara Harapan dan Fakta Ilmiah
Drama Obat Balita: Trik Jitu Agar Si Kecil Tak Lagi Menolak
Tren Hijab 2026: Minimalis Tergeser, Gaya Ekspresif dan Arsitektural Jadi Primadona