Cinta yang Menyakitkan: Ketika Hubungan Berubah Jadi Jerat Emosional

- Senin, 29 Desember 2025 | 01:06 WIB
Cinta yang Menyakitkan: Ketika Hubungan Berubah Jadi Jerat Emosional

Pernah dengar ungkapan "cinta itu buta"? Rasanya, ungkapan itu hidup dan nyata bagi mereka yang bertahan meski hati dan tubuhnya sudah terluka berulang kali. Mereka berpegang pada satu keyakinan: bahwa pasangan itulah orang yang paling mengerti, yang selalu ada. Melepaskannya? Rasanya mustahil. Ironisnya, di titik ini, cinta yang seharusnya meneduhkan justru berubah jadi beban yang berat.

Mereka terus berharap. Percaya bahwa suatu hari nanti, si dia akan berubah. Kenangan manis di awal hubungan, saat perhatian melimpah dan kata-kata lembut, terus menerus menghantui pikiran. Sosok itu tetap yang dicari, dirindukan, dan dinantikan kepulangannya.

Tanpa disadari, kondisi inilah yang perlahan membentuk Stockholm Syndrome dalam hubungan asmara. Menurut Graham dan rekan-rekannya (1995), sindrom ini adalah kondisi psikologis yang tidak wajar. Korban kekerasan justru merasa terikat secara emosional pada pelakunya. Ikatan itu bisa berupa rasa cinta, keinginan melindungi, kecenderungan menyalahkan diri sendiri, bahkan membela kesalahan pasangan.

Begitu cinta berubah jadi sekadar soal bertahan hidup, kekerasan pun dianggap biasa. Dampak psikologisnya akan jadi luka yang dalam, kalau dibiarkan terus. Makanya, penting banget untuk mengenali kondisi diri. Sadari betul dampak Stockholm Syndrome yang, sayangnya, memperkenalkan cinta dengan cara yang keliru.

Pasangan Jadi Poros Kehidupan

Ketika seseorang sudah terlalu terbiasa dengan kehadiran pasangan selalu ada saat dibutuhkan, memenuhi keinginan, bahkan ikut campur dalam keputusan hidup memutuskan hubungan jadi hal yang sulit sekali. Bahkan saat situasi sudah berbahaya dan kekerasan verbal maupun fisik mulai terjadi, korban seringkali tak bisa kabur.

Penelitian Khairaat dan tim (2023) menunjukkan, korban sudah telanjur bergantung pada pasangannya sebagai sumber kebahagiaan satu-satunya.

"Sama kamu sakit, tapi nggak sama kamu jauh lebih sakit."

"Aku gapapa sakit, asal kamu bahagia."

Ucapan-ucapan seperti itu adalah cermin nyata ketergantungan itu. Akhirnya, bahagia atau tidaknya diri, ditentukan oleh keberadaan dan perlakuan pasangan. Sekalipun perlakuan itu menyakitkan.

Jeruji yang Tak Kelihatan

Begitu seseorang yakin kebahagiaannya hanya dari pasangan, dunia di sekitarnya pun memudar. Hidupnya berpusat pada satu orang saja, tanpa sadar mengabaikan orang-orang lain yang sebenarnya juga punya arti.

Penelitian yang sama memperkuat hal ini. Korban sering merasa terisolasi dari lingkaran sosialnya. Dalam kondisi itu, mereka bingung harus curhat ke siapa. Ujung-ujungnya, perhatian hanya tertuju pada kebutuhan dan keinginan sang pasangan.

Jiwa yang Terpisah dari Raga

Kekerasan yang dialami lambat laun membuat korban kehilangan dirinya sendiri. Mereka mulai menyalahkan diri dan merasa pantas diperlakukan kasar. Ini adalah bentuk pertahanan diri, seperti dijelaskan dalam penelitian, di mana korban berusaha melindungi hubungan dengan berbohong pada orang sekitar dan menampilkan sikap yang bertolak belakang dengan perasaan sejati.

Kondisi ini menunjukkan satu hal: korban mulai kehilangan jati diri. Hidupnya dipenuhi topeng dan sandiwara, menunggu keberanian untuk membebaskan diri dari jerat yang sama-sama mereka pelihara.

Melihat dampaknya yang terus menggores luka baru, bukankah ini saatnya bangkit dan melawan? Ingat, cinta sejati tidak memaksa. Tidak menyakiti. Cinta yang benar adalah ketika kamu tak perlu lagi mempertanyakan harga dirimu sendiri.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar