Kak, Gimana Ini?: Kerinduan Tersembunyi Anak Perempuan Pertama

- Minggu, 28 Desember 2025 | 04:06 WIB
Kak, Gimana Ini?: Kerinduan Tersembunyi Anak Perempuan Pertama

Di penghujung hari yang melelahkan, lamunan banyak anak perempuan pertama seringkali sederhana saja. Bukan tentang harta atau cinta. Tapi tentang sebuah pengandaian yang hangat: "Seandainya aku punya kakak." Kemandirian yang selalu dipuji orang dewasa itu, ternyata menyembunyikan sebuah lubang. Lubang yang berbentuk sosok pelindung yang tak pernah ada. Jadi, ini bukan cuma soal pengin punya teman main. Lebih dalam dari itu. Ini adalah kerinduan akan hak untuk boleh tidak tahu, dan diizinkan untuk rapuh.

Nah, dalam struktur keluarga, anak sulung perempuan kerap jadi "kelinci percobaan" pertama bagi orang tua yang masih belajar. Akibatnya, muncul perasaan bahwa kasih sayang harus diraih dengan prestasi dan kepatuhan. Makanya, wajar kalau keinginan punya kakak itu muncul. Itu bentuk pelarian mental dari tuntutan yang sudah menempel di pundak sejak kecil.

Kenapa sih, Pengin Punya Kakak?

Kita, anak pertama, lahir tanpa ada panduan. Tanpa kakak yang lebih dulu mencoba. Kitalah orang pertama yang menabrak tembok aturan orang tua, yang harus cari tahu sendiri cara daftar kuliah, atau jadi penengah saat suasana di rumah memanas. Mau tak mau, anak sulung perempuan jadi peta bagi adik-adiknya dan kompas bagi orang tua yang juga masih belajar jadi dewasa.

Memimpikan seorang kakak pada dasarnya adalah memimpikan seorang "pembuka jalan". Ada keinginan rahasia yang mendalam: untuk sekali saja bisa bertanya, "Kak, gimana ini?" Daripada selalu jadi sumber solusi yang bilang, "Tenang, biar aku urus." Akarnya sederhana: lelah menjadi pemandu bagi semua orang, sementara diri sendiri seringkali merasa tersesat dan tak terlindungi.

Hak yang Terlambat untuk Jadi "Anak Kecil"

Istilah inner child atau jiwa kekanak-kanakan yang terluka itu kini populer. Bagi anak perempuan pertama, sisi kekanak-kanakan itu seringkali harus "dikubur" lebih dulu. Demi peran sebagai asisten rumah tangga, guru les adik, atau tempat curhat emosional orang tua. Psikologi menyebutnya parentification, saat anak terpaksa menjalani peran dewasa sebelum waktunya.

Nah, punya kakak itu artinya punya "izin" secara emosional. Izin untuk bertingkah konyol, untuk berbuat salah tanpa merasa dunia akan kiamat, dan yang utama: izin untuk lemah. Keinginan punya kakak itu adalah manifestasi dari kelelahan kronis karena harus selalu jadi yang "paling dewasa" di rumah. Kita rindu masa kecil yang ceroboh, yang sering terenggut oleh tuntutan untuk sempurna.

Mencari Figur Kakak di Luar Rumah

Karena tak ada di rumah, tanpa disadari banyak anak perempuan pertama mencari figur pelindung ini di luar. Ini mungkin menjelaskan ketertarikan pada pasangan yang jauh lebih tua, atau ketergantungan pada atasan yang bersifat mengayomi di kantor. Intinya, kita berusaha mengisi kekosongan itu figur otoritas yang suportif yang tak kita dapatkan dulu.

Jujur saja, rasa iri yang samar kerap muncul saat lihat teman bisa mengadu dan manja pada kakaknya. Keinginan punya kakak adalah pengakuan jujur: menjadi tiang penyangga tunggal itu posisi yang sepi. Sehebat apapun dirimu, tetap ada saat dimana kamu ingin ada yang bilang, "Sudah, istirahat dulu. Biar Kakak yang urus." Kerinduan ini adalah teriakan minta tolong yang tersamar oleh label "mandiri" yang justru menguras habis energi.

Penutup

Pada akhirnya, keinginan untuk punya kakak itu adalah protes sunyi. Protes terhadap beban yang seharusnya tak dipikul sendirian. Ini pengingat bahwa di balik julukan "anak mandiri", ada seorang gadis kecil yang masih menunggu gilirannya untuk dijaga. Memang, jadi anak perempuan pertama membentuk pribadi yang kuat. Tapi tak ada salahnya mengakui bahwa harus kuat setiap saat adalah pekerjaan paling melelahkan di dunia.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar