Kinerja ABM Investama (ABMM) Hingga September 2025: Laba Bersih Capai Rp695 Miliar
PT ABM Investama Tbk (ABMM) melaporkan pencapaian kinerja keuangannya hingga kuartal ketiga tahun 2025. Perusahaan tambang batu bara dari Trakindo Group ini berhasil membukukan laba bersih sebesar USD 42,4 juta, yang setara dengan Rp695 miliar.
Perbandingan Kinerja Kuartalan dan Tahunan
Meskipun laba bersih tahunan hingga September 2025 tercatat turun 62% dibandingkan periode yang sama di tahun 2024 (USD 111,9 juta), terjadi perbaikan kinerja yang signifikan secara kuartal. Laba bersih ABMM mengalami pertumbuhan sebesar 130%, melonjak dari Rp104 miliar menjadi Rp240 miliar.
Pendapatan dan Tantangan Operasional
Hingga kuartal III-2025, ABM Investama mencatatkan pendapatan konsolidasi sebesar USD 781,6 juta. Angka ini mengalami penurunan 12,5% year-on-year (yoy), didorong oleh pelemahan harga batu bara di pasar global. Adjusted EBITDA perusahaan juga turun 40% yoy menjadi USD 280,7 juta.
Kinerja operasional perseroan pada tahun 2025 turut dipengaruhi oleh fluktuasi harga komoditas dan kondisi cuaca ekstrem di area operasi. Sebagai respons, manajemen mengambil langkah strategis untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi.
Struktur Keuangan yang Tetap Solid
Di tengah tantangan pasar, ABM Investama menjaga fundamental keuangan yang kuat. Perusahaan memiliki neraca yang solid dengan posisi aset USD 2,13 miliar. Tingkat liabilitas tercatat sebesar USD 1,32 miliar (turun 7,8%), sementara ekuitas mengalami kenaikan 5,4% menjadi USD 820,7 juta.
Kinerja Operasional dan Rencana Strategis Jangka Panjang
Dari sisi operasi, volume pengupasan tanah (overburden removal) turun 12% menjadi 178,6 juta bank cubic meter (Mbcm). Volume produksi batu bara juga mengalami penurunan 14% menjadi 24,8 juta ton. Pada segmen perdagangan bahan bakar, realisasi turun 14% menjadi 282 juta liter, meski perusahaan mempertahankan tingkat pengiriman tepat waktu (on-delivery) di level 94%.
Ke depan, ABM Investama, yang sahamnya juga dimiliki oleh investor legendaris Lo Kheng Hong, berkomitmen pada inisiatif strategis jangka panjang. Fokus utama adalah stabilisasi operasi pertambangan dan ekspansi ke bisnis non-batu bara untuk menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan.
Artikel Terkait
BCA Sekuritas Prediksi 2026: Dunia di Era Great Reset AI, Dihantui Ketegangan Geopolitik
Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,39% di Kuartal IV-2025, Tertinggi Sepanjang Tahun
IHSG Terpangkas 1,15% Usai Moodys Turunkan Outlook Utang Indonesia
Saham TUGU Tunjukkan Ketahanan dan Pulih Lebih Cepat dari Gejolak MSCI