Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai pengembangan ekosistem digital dapat menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Menurutnya, sektor digital relatif lebih tangguh terhadap gejolak geopolitik, termasuk yang terjadi di kawasan Selat Hormuz.
Pernyataan itu disampaikan Airlangga saat meresmikan pendaratan Nongsa-Changi Cable Landing, infrastruktur kabel bawah laut yang menghubungkan Batam, Indonesia, dengan Changi, Singapura, pada Senin (20/7) di Batam. Ia menyebut pembangunan koridor digital tersebut menjadi fondasi bagi pengembangan pusat data, komputasi awan, hingga kecerdasan buatan (AI) di Indonesia.
Airlangga mengatakan, industri pusat data merupakan sektor strategis untuk mendorong target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen. "Ini adalah sektor yang tepat untuk mendorong pertumbuhan Indonesia, sehingga aspirasi kita untuk 8 persen diharapkan dapat dikembangkan dengan ekosistem digital ini. Dan ini tidak akan terganggu oleh apa yang terjadi di Hormuz," jelas Airlangga saat memberi sambutan.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia yang menjadi lintasan utama ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah. Setiap eskalasi ketegangan di wilayah itu berpotensi memicu kenaikan harga minyak, meningkatkan biaya logistik, hingga menekan aktivitas ekonomi global.
Airlangga menjelaskan Batam terus berkembang sebagai gerbang digital Indonesia. Ia menyebut fasilitas pusat data di Nongsa Digital Park saat ini memiliki kapasitas 120 megawatt (MW), sementara pengembangan hyperscale data center bersama Indonesia Investment Authority (INA) ditargetkan mencapai kapasitas 450 MW.
Selain itu, Oracle, perusahaan teknologi asal Amerika Serikat yang menyediakan layanan basis data, komputasi awan, dan infrastruktur digital global, telah memilih Batam sebagai lokasi Oracle Cloud Region atau kawasan pusat data cloud. Kehadiran Oracle dinilai memperkuat posisi Batam sebagai salah satu pusat infrastruktur digital di Asia Tenggara sekaligus mendukung kebutuhan penyimpanan dan pengolahan data bagi perusahaan maupun institusi di Indonesia.
Airlangga mengatakan, industri pusat data di Batam tumbuh sekitar 22 persen per tahun, lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan nasional sebesar 19 persen. Menurutnya, perkembangan tersebut menunjukkan ekonomi digital berpotensi menjadi mesin pertumbuhan baru Indonesia seiring meningkatnya kebutuhan terhadap layanan cloud, AI, dan penyimpanan data.
Ia juga memaparkan Indonesia kini memiliki sekitar 235 juta pengguna internet, sementara jumlah pelanggan fixed broadband mencapai sekitar 99,5 juta. Indonesia juga disebut sebagai pasar potensial AI terbesar keempat di Asia setelah China, India, dan Jepang.
Meski demikian, Airlangga menegaskan pengembangan infrastruktur digital harus didukung oleh pasokan energi yang andal. "Indonesia memperluas energi terbarukan dan energi campuran dari panas bumi di Sumatera termasuk tenaga surya di Batam. Program nasional adalah meningkatkan 100 Gigawatt dalam beberapa tahun ke depan," tambahnya.
Kombinasi pembangunan infrastruktur digital dan transisi energi ini diyakini menjadi modal penting bagi Indonesia untuk menarik investasi sekaligus memperkuat daya saing ekonomi nasional di tengah dinamika global.
Artikel Terkait
Kabel Laut Nongsa-Changi Resmi Mendarat di Batam, Janjikan Latensi di Bawah 2 Milidetik
Pemerintah Resmikan Kabel Bawah Laut Nongsa-Changi, Perkuat Konektivitas Digital Indonesia-Singapura
Airlangga Bidik Transfer Teknologi Robotika dan AI dari Perusahaan China
Indonesia Tegaskan Komitmen Jadi Arsitek Aktif Pengembangan AI Global