PT Bursa Efek Indonesia (BEI) optimistis prospek pasar modal tanah air tetap cerah dalam jangka panjang. Keyakinan itu didorong fundamental ekonomi yang resilien, kinerja emiten yang solid, serta reformasi transparansi yang terus digenjot regulator dan Self-Regulatory Organizations (SRO).
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menegaskan, langkah perbaikan tata kelola bertujuan membangun kredibilitas pasar yang lebih tinggi. Dengan begitu, minat investasi dari dalam dan luar negeri diharapkan terus mengalir.
“Berbagai langkah reformasi yang dilakukan regulator dan SRO merupakan bagian dari komitmen untuk meningkatkan transparansi, memperkuat tata kelola, dan membangun pasar modal yang semakin kredibel. Dengan fundamental ekonomi dan korporasi yang tetap kuat, kami optimistis pasar modal Indonesia akan terus menjadi pilihan investasi yang menarik bagi investor domestik maupun global dalam jangka panjang,” ujar Jeffrey dalam keterangan tertulis, Sabtu (11/7/2026).
Optimisme itu didukung lonjakan partisipasi investor domestik. Per 30 Juni 2026, jumlah Single Investor Identification (SID) mencapai 28,9 juta. Data KSEI menunjukkan, investor saham dan surat berharga lainnya mencapai 9,9 juta SID, naik 15,1 persen dibanding akhir 2025.
Saat ini, investor domestik menguasai 61 persen porsi kepemilikan saham dan berkontribusi 65,5 persen terhadap total nilai perdagangan harian di BEI.
Sepanjang 2026, BEI bersama KPEI dan KSEI dengan dukungan OJK terus mempercepat reformasi transparansi. Kebijakan yang telah diterapkan meliputi publikasi data kepemilikan saham di atas 1 persen, peningkatan syarat free float minimum menjadi 15 persen, perluasan klasifikasi investor menjadi 39 kategori, serta penerapan mekanisme High Shareholding Concentration (HSC).
Fondasi ekonomi Indonesia yang kuat turut menjadi motor pertumbuhan. Pertumbuhan kuartal I-2026 mencapai 5,61 persen. Ditambah status negara yang bergerak di sektor manufaktur dengan dukungan sumber daya alam, Indonesia dinilai menempati posisi penting dalam rantai pasok global serta berperan aktif di forum internasional seperti G20, BRICS, dan ASEAN.
Jeffrey menambahkan, seluruh indikator makroekonomi dan capaian bursa menunjukkan ekosistem pasar modal yang kian progresif.
“Kombinasi antara fundamental ekonomi yang tetap kuat, kinerja Perusahaan Tercatat yang tetap resilien, pertumbuhan investor domestik, serta reformasi transparansi yang terus berjalan secara konsisten, menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia memiliki fondasi yang makin kokoh,” urai Jeffrey.
Artikel Terkait
BEI Luncurkan Tiga Fitur Baru di IDX Mobile untuk Transparansi Pasar Modal
Samcro Hyosung Realisasikan 85% Dana IPO untuk Ekspansi dan Pembayaran Utang
Sepuluh Saham Paling Tertekan Sepanjang Pekan, TRUS Pimpin Pelemahan
IHSG Menguat 0,83% dalam Sepekan, Kapitalisasi Pasar Tembus Rp10.340 Triliun