Protes E20 di India: Pengendara Keluhkan Bensin Boros, Pemerintah dan Produsen Bantah

- Senin, 06 Juli 2026 | 09:18 WIB
Protes E20 di India: Pengendara Keluhkan Bensin Boros, Pemerintah dan Produsen Bantah

Gelombang protes terhadap kebijakan pencampuran etanol ke dalam bensin atau E20 melanda India. Sejumlah pengendara dijadwalkan menggelar aksi di New Delhi pada Minggu (5/7) waktu setempat sebagai bentuk penolakan terhadap program biofuel yang diterapkan Perdana Menteri Narendra Modi.

Di media sosial, para pengendara mengeluhkan konsumsi bahan bakar yang lebih boros, biaya perawatan kendaraan yang meningkat, hingga kekhawatiran terhadap risiko korosi pada mesin. Keluhan itu ramai beredar dan mendorong pemerintah serta industri otomotif memberikan klarifikasi.

Sejumlah produsen mobil, termasuk Hyundai, menegaskan bahwa bensin E20 telah melalui pengujian menyeluruh dan aman digunakan. "Kami sangat yakin tidak melihat masalah serius di media sosial yang mengharuskan pemerintah meninjau ulang program pencampuran biofuel," kata Associate Vice President Hyundai Motor India, Puneet Anand.

Executive Director Maruti Suzuki India, Rahul Bharti, mengatakan kendaraan yang dirancang untuk menggunakan E20 telah dipasarkan sejak 2025. Menurutnya, bensin tersebut juga tetap kompatibel dengan kendaraan lama yang telah memenuhi standar E10. Meski begitu, ia mengakui efisiensi bahan bakar memang dapat sedikit menurun. Namun, penurunan tersebut dinilai sebanding dengan manfaat ekonomi dan lingkungan yang diperoleh melalui pengurangan konsumsi bahan bakar fosil.

Country Head Toyota Kirloskar Motor, Vikram Gulati, juga mengklarifikasi kasus viral di India tentang Toyota Innova Hycross yang disebut rusak akibat E20. Menurutnya, kerusakan itu ternyata disebabkan oleh bahan bakar yang terkontaminasi, bukan karena kandungan etanolnya.

Secara terpisah, Menteri Perminyakan India Hardeep Singh Puri menuding adanya pihak-pihak berkepentingan yang menyebarkan informasi keliru mengenai penggunaan bensin E20.

Program E20 merupakan bagian dari kebijakan swasembada energi Modi untuk mengurangi ketergantungan India terhadap impor minyak mentah sekaligus meningkatkan pendapatan petani melalui perluasan penggunaan etanol berbahan baku hasil pertanian. India sebelumnya mencapai target pencampuran etanol 20 persen ke dalam bensin pada 2025, lima tahun lebih cepat dari target semula. Bahkan saat ini pemerintah India tengah mengevaluasi kemungkinan menaikkan kadar campuran etanol di atas 20 persen.

Pada bulan lalu, perusahaan kilang milik negara mulai memasarkan bensin dengan campuran etanol 85 persen untuk kendaraan flex-fuel. Meski demikian, Menteri Perminyakan Hardeep Singh Puri mengatakan bahwa setiap rencana untuk menaikkan pencampuran etanol menjadi 25 persen hanya akan dilakukan setelah melalui pengujian ketat dan konsultasi dengan seluruh pemangku kepentingan. Ia menambahkan bahwa strategi India untuk mendiversifikasi bahan bakar transportasi akan mengandalkan berbagai teknologi, termasuk biofuel, kendaraan listrik berbasis baterai, dan gas alam terkompresi (CNG).

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags