UEA Resmi Keluar dari OPEC dan OPEC+ per 1 Mei 2026, Target Produksi Capai 5 Juta Barel per Hari

- Rabu, 29 April 2026 | 16:15 WIB
UEA Resmi Keluar dari OPEC dan OPEC+ per 1 Mei 2026, Target Produksi Capai 5 Juta Barel per Hari

IDXChannel – Ada kejutan besar di dunia minyak. United Arab Emirates (UEA) memutuskan hengkang dari OPEC dan aliansi OPEC . Mulai 1 Mei 2026, mereka resmi keluar. Ini mengakhiri perjalanan panjang hampir enam dekade dalam kebijakan produksi yang selama ini terkoordinasi.

UEA pertama kali bergabung dengan OPEC pada 1967, masih lewat Abu Dhabi. Setelah federasi terbentuk pada 1971, mereka tetap menjadi anggota. Bersama negara-negara Teluk lainnya, UEA adalah pemain besar. Produksi dari Timur Tengah sendiri menyumbang sekitar 30 persen dari total pasokan minyak dunia.

Menteri Energi UEA, Suhail Mohamed al-Mazrouei, bicara ke Reuters. Katanya, keputusan ini diambil setelah mereka meninjau ulang kebijakan saat ini dan ke depan terutama soal tingkat produksi. Semua diputuskan secara independen, tanpa tekanan pihak luar.

“Kalau dipikir-pikir, kejutan terbesar dari pengumuman ini bukanlah soal keputusan UEA keluar dari OPEC dan OPEC pada awal Mei. Justru waktunya yang bikin orang terkejut,” ujar Michael Brown, Senior Research Strategist di Pepperstone. Bukan substansinya, katanya.

Di balik keputusan itu, ada beberapa konsekuensi strategis dan keuntungan yang bisa diraup UEA. Menurut laporan Al Jazeera, begini kira-kira dampaknya.

Akhir dari sistem kuota produksi

Begitu keluar, UEA nggak lagi terikat dengan kesepakatan produksi bersama. Mereka bebas. Nggak ada lagi kuota yang mengikat. Tingkat produksi bakal ditentukan sendiri berdasarkan kapasitas dan kondisi pasar.

UEA punya rencana besar. Kapasitas produksi saat ini sekitar 3,4 juta barel per hari. Target mereka? Naik jadi 5 juta barel per hari pada 2027.

Brown bilang, sebenarnya ketidakpuasan UEA terhadap kuota OPEC sudah lama terlihat. Mereka merasa kuota itu membatasi investasi infrastruktur dan ekspansi produksi. Jadi, keluar adalah langkah logis.

Fleksibilitas lebih besar dalam keputusan pasokan

Di luar aliansi, UEA punya keleluasaan. Mereka bisa menyesuaikan produksi tanpa koordinasi dengan produsen lain. Pemerintah di sana bilang, tambahan pasokan akan masuk ke pasar secara bertahap ngikutin permintaan dan kondisi yang ada.

Yang jelas, langkah ini murni keputusan kebijakan. Bukan hasil konsultasi dengan negara lain.

“Meski UEA berjanji akan meningkatkan produksi secara bertahap setelah keluar, melakukannya saat ini berada di antara sulit dan hampir mustahil,” kata Brown lagi. Agak pesimistis, ya.

Peran yang berkurang dalam pengelolaan pasar terkoordinasi

Selama ini, OPEC dan OPEC punya peran penting: mengelola pasokan saat pasar lagi volatil. Data terbaru menunjukkan, produksi OPEC turun 27 persen jadi 20,79 juta barel per hari pada Maret. Penyebabnya? Gangguan geopolitik yang menghilangkan 7,88 juta barel per hari dari pasokan.

Penurunan ini lebih besar dibanding saat krisis permintaan akibat Covid-19 pada 2020. Bahkan lebih parah dari gangguan pasokan di era 1970-an dan 1991.

Dengan keluarnya UEA, jumlah produsen yang ikut dalam keputusan produksi terkoordinasi jadi berkurang.

“Meski ini jelas peristiwa penting bagi pasar energi global, dampak jangka pendeknya kemungkinan relatif terbatas,” kata Brown. Mungkin nggak langsung kerasa.

Selaras dengan strategi ekonomi domestik

Langkah ini diambil di tengah upaya UEA mendiversifikasi ekonomi. Sektor non-migas sekarang menyumbang sekitar 75 persen dari produk domestik bruto. Tapi, mereka tetap berinvestasi di minyak dan gas, plus energi terbarukan dan rendah karbon.

Pemerintah bilang, keputusan ini mencerminkan profil energi yang terus berkembang dan strategi jangka panjang mereka.

Brown menilai, target produksi 5 juta barel per hari pada 2027 bakal lebih realistis dicapai di luar batasan OPEC. Apalagi kalau kondisi regional membaik.

Alasan regional dan geopolitik

UEA bukan yang pertama. Qatar sudah lebih dulu keluar dari OPEC pada 2019. Produsen Teluk lain seperti Bahrain dan Oman memang di luar OPEC, tapi mereka masih selaras dengan upaya pengelolaan pasokan.

Keputusan ini juga terjadi di tengah tantangan pengiriman ekspor lewat Selat Hormuz. Itu jalur penting buat aliran energi global. Mazrouei bilang, keluarnya UEA nggak akan berdampak signifikan pada pasar, mengingat kondisi di selat tersebut saat ini.

“Seiring konflik AS-Iran berlanjut dan Selat Hormuz tetap tidak dapat dilalui, isu terbesar pasar minyak bukanlah produksi, melainkan pengiriman ke lokasi yang membutuhkan,” ujar Brown. Praktis, jalur itu sekarang tertutup. Pasokan makin ketat dari hari ke hari.

UEA menyatakan, meski beroperasi di luar OPEC dan OPEC , mereka tetap akan berinteraksi dengan produsen dan konsumen energi. Jadi, bukan berarti putus hubungan total.

(NIA DEVIYANA)

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar