Solidaritas untuk Gaza Perlu Masuki Tahap Baru: dari Bantuan ke Rekonstruksi

- Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:00 WIB
Solidaritas untuk Gaza Perlu Masuki Tahap Baru: dari Bantuan ke Rekonstruksi

Dukungan terhadap Palestina dinilai perlu melangkah lebih jauh dari sekadar pengiriman bantuan kemanusiaan. Gagasan yang mengemuka dalam diskusi strategis di Jakarta, Senin (10/8/2026), adalah membangun hubungan langsung antara masyarakat Indonesia dan warga Gaza, serta pendampingan jangka panjang hingga rekonstruksi.

Diskusi bertajuk "What's Next?" yang digelar di Maqdisi AQL, Tebet, Jakarta, itu membahas keberlanjutan gerakan solidaritas dan kemanusiaan melalui Global Sumud Flotilla. Hadir sebagai pembicara, Dewan Pembina Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) KH Bachtiar Nasir dan salah satu penggagas Sumud Flotilla, Syaikh Dr Marwan Abu Ros. Keduanya bersama peserta forum membahas langkah lanjutan, mulai dari penguatan jejaring masyarakat hingga persiapan rekonstruksi.

Salah satu gagasan yang mengemuka adalah membangun model persaudaraan langsung antara masyarakat Indonesia dan Gaza. Hubungan tersebut dapat dikembangkan melalui kerja sama antarkeluarga, universitas, masjid, maupun lembaga sosial. Model ini dinilai penting agar dukungan tidak hanya berhenti pada penyaluran logistik, tetapi juga memberikan dukungan psikologis bagi warga Gaza dan membangun solidaritas yang berkelanjutan. Dengan pola tersebut, masyarakat Indonesia tidak hanya hadir saat krisis, tetapi terus mendampingi dalam proses pemulihan.

Simbol Perlawanan

Diskusi juga menyoroti arti strategis keberadaan armada kemanusiaan yang berupaya mencapai Gaza melalui jalur laut. Global Sumud Flotilla dinilai memiliki dampak yang melampaui jumlah kapal maupun bantuan yang dibawa. Keberadaan armada tersebut dipandang sebagai simbol penolakan terhadap pembatasan akses menuju Gaza sekaligus pesan bahwa perhatian internasional terhadap Palestina terus bergerak. Dalam forum tersebut, armada kemanusiaan itu bahkan digambarkan sebagai "paku yang ditancapkan ke jantung" Israel, menggambarkan tekanan psikologis dan politik yang ditimbulkannya.

Perkembangan Global Sumud Flotilla juga dinilai telah mengubah percakapan publik internasional mengenai Palestina. Keterlibatan peserta dari berbagai latar belakang agama dan kebangsaan turut menjadi perhatian. Kehadiran warga negara Barat, termasuk yang bukan Muslim dan bukan berasal dari negara-negara Arab, dinilai penting untuk memperluas perspektif internasional mengenai kondisi Gaza. Solidaritas tersebut menunjukkan bahwa dukungan terhadap Palestina bukan semata persoalan agama atau identitas kelompok, melainkan persoalan kemanusiaan. Keterlibatan tokoh non-Muslim dari Eropa di posisi terdepan gerakan juga dinilai dapat memperkuat karakter kemanusiaan Global Sumud Flotilla sekaligus menghadapi upaya pelabelan negatif terhadap gerakan solidaritas Palestina.

Meski membawa semangat solidaritas yang luas, peserta diskusi menekankan pentingnya menjaga fokus gerakan pada Gaza. Misi Global Sumud Flotilla dinilai perlu diarahkan secara spesifik pada persoalan kemanusiaan di Gaza dan tidak dicampur dengan berbagai persoalan politik regional yang berpotensi menimbulkan konflik kepentingan. Sejumlah isu regional, termasuk persoalan Kurdi dan Sahara di Maroko, disebut sebagai contoh isu yang sebaiknya tidak dicampuradukkan dengan agenda utama gerakan. Fokus tersebut dinilai penting untuk mempertahankan integritas Global Sumud Flotilla sebagai gerakan kemanusiaan dan solidaritas untuk Gaza.

Dari Blokade ke Rekonstruksi

Perjuangan untuk Gaza, menurut pembahasan forum, tidak berhenti pada upaya menembus blokade. Agenda berikutnya adalah mempersiapkan rekonstruksi Gaza. Kedua agenda tersebut dinilai perlu berjalan secara paralel, yakni memperjuangkan akses kemanusiaan sekaligus menyiapkan pembangunan kembali wilayah yang mengalami kehancuran akibat perang. Salah satu perhatian utama adalah kondisi anak-anak yang kehilangan orang tua. Dalam diskusi disebutkan terdapat lebih dari 60 ribu anak yatim yang membutuhkan perhatian dan dukungan jangka panjang.

Rekonstruksi juga mencakup pembangunan kembali rumah, masjid, dan berbagai fasilitas masyarakat yang rusak. Untuk itu, diperlukan koordinasi kuat di antara lembaga filantropi dan organisasi kemanusiaan. Dengan demikian, solidaritas terhadap Palestina diarahkan dari respons terhadap krisis menuju program pemulihan masyarakat dalam jangka panjang.

Dukungan Indonesia terhadap Palestina dalam forum tersebut juga ditempatkan dalam konteks konstitusi dan sejarah hubungan kedua bangsa. Peserta mengaitkan dukungan terhadap Palestina dengan amanat konstitusi Indonesia yang menolak segala bentuk penjajahan. Dukungan tersebut juga memiliki dimensi historis karena Palestina menjadi salah satu pihak yang memberikan dukungan terhadap kemerdekaan Indonesia. Karena itu, dukungan terhadap Palestina dinilai bukan sekadar solidaritas internasional, melainkan bagian dari komitmen Indonesia terhadap prinsip kemerdekaan dan penolakan terhadap penjajahan.

Evaluasi Internal

Di sisi lain, forum menyoroti pentingnya evaluasi internal dalam gerakan solidaritas Palestina. Gerakan yang berkembang secara organik dinilai tetap membutuhkan pembenahan manajemen, evaluasi terhadap kelemahan, serta mekanisme untuk meminimalkan konflik kepentingan dan persoalan internal. Keterlibatan dalam gerakan tersebut juga membutuhkan komitmen yang kuat. Dalam diskusi disebutkan, mereka yang ingin terlibat secara serius perlu mengalokasikan waktu sedikitnya tiga jam setiap hari. Komitmen tersebut tidak hanya menyangkut waktu, tetapi juga kesiapan mengesampingkan kepentingan pribadi dan menempatkan tujuan kemanusiaan sebagai prioritas.

Menjawab "What's Next?"

Pertanyaan "What's Next?" pada akhirnya diarahkan pada bagaimana mengubah solidaritas menjadi kerja nyata yang berkelanjutan. Global Sumud Flotilla dipandang bukan sebagai tujuan akhir, melainkan bagian dari rangkaian perjuangan kemanusiaan untuk Gaza. Setelah upaya membuka akses melalui jalur laut, agenda berikutnya mencakup penguatan hubungan masyarakat Indonesia dengan Gaza, perluasan solidaritas lintas agama dan negara, serta persiapan rekonstruksi.

Bagi Indonesia, agenda tersebut juga ditempatkan dalam konteks hubungan historis dengan Palestina dan amanat konstitusi mengenai penolakan terhadap penjajahan. Diskusi di Maqdisi AQL itu menegaskan bahwa solidaritas terhadap Gaza perlu bergerak dari simpati menuju keterlibatan nyata, terorganisasi, dan berkelanjutan. Jika Global Sumud Flotilla menjadi simbol upaya membuka jalan bagi bantuan dan solidaritas, maka rekonstruksi serta hubungan langsung antarmasyarakat menjadi bagian dari agenda jangka panjang untuk memastikan Gaza tidak hanya dibela ketika krisis terjadi, tetapi juga didampingi dalam proses pemulihannya.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags