Di tengah bayang-bayang kabar penundaan review indeks oleh FTSE Russell, IHSG justru menunjukkan taringnya. Pada perdagangan Selasa (10/2/2026), indeks saham gabungan kita malah melesat, melanjutkan reli yang sudah dimulai sehari sebelumnya.
Data BEI mencatat, pukul 10.09 WIB, IHSG sudah naik 1,21 persen ke level 8.128,69. Transaksi berjalan cukup aktif, dengan nilai mencapai Rp7,20 triliun dan volume 16,75 miliar saham. Mayoritas saham bergerak hijau: 571 naik, sementara yang turun cuma 144. Sisanya, 243 saham, stagnan.
Kekuatan pasar kali ini banyak ditopang oleh saham-saham konglomerasi besar. Ambil contoh dari Grup Bakrie, saham BUMI dan BRMS masing-masing naik 7,50 persen dan 3,47 persen. Dari kubu Barito milik Prajogo Pangestu, CDIA melompat 5,26 persen dan BRPT menguat 2,76 persen.
Lalu, bagaimana dengan kabar FTSE yang sempat bikin deg-degan itu? Menurut pengamat pasar modal Michael Yeoh, tampaknya pasar sudah lebih dulu mengantisipasinya.
“Terlihat sepertinya pengumuman FTSE sudah priced in dengan IHSG saat ini. IHSG tidak merespons dengan ekstrem,” ujarnya, Selasa kemarin.
Reaksi yang relatif tenang ini, kata dia, menunjukkan investor sudah memperhitungkan implikasi kebijakan itu sebelumnya. Michael juga menyoroti satu poin penting dari pernyataan FTSE yang mungkin luput.
“Jika kita perhatikan, ada pernyataan penting dari FTSE yang mengatakan bahwa ini bukan penilaian terhadap klasifikasi negara,” katanya.
Pernyataan itu memberi sinyal bahwa posisi Indonesia di mata FTSE tetap solid secara fundamental. “Yang artinya FTSE menilai Indonesia masih strong secara size dan prospek,” imbuhnya.
Meski begitu, kita jangan terlalu euforia dulu. IHSG saat ini masih terpangkas sekitar 11,50 persen dari rekor tertingginya yang dicapai pada 20 Januari lalu. Volatilitas memang mereda, tapi tekanan belum sepenuhnya hilang.
Detail Keputusan FTSE Russell
FTSE Russell memutuskan untuk menunda review indeks Indonesia yang rencananya Maret 2026. Penundaan ini terkait dengan rencana reformasi pasar modal yang sedang digodok OJK dan BEI. Mereka menilai, di tengah proses reformasi ini, potensi lonjakan turnover dan ketidakpastian penentuan porsi free float saham cukup tinggi.
Kebijakan penundaan ini mengacu pada aturan Exceptional Market Disruption. FTSE akan terus memantau perkembangan reformasi dan berencana memberi pembaruan sebelum 22 Mei 2026, menjelang review di bulan Juni.
Sebagai konsekuensinya, penerapan sejumlah aksi korporasi untuk saham Indonesia di indeks mereka juga ditangguhkan sementara. Ini mencakup penambahan saham baru dari IPO, penghapusan saham akibat review, hingga rights issue.
Namun, beberapa aksi lain tetap jalan. Misalnya, penghapusan saham karena merger atau kebangkrutan, stock split, bonus saham, dan pembagian dividen. Yang perlu ditegaskan, keputusan ini sama sekali tidak berkaitan dengan klasifikasi negara. Pengumuman terkait klasifikasi itu sendiri tetap dijadwalkan pada 7 April mendatang.
Bayangan dari MSCI Masih Menggantung
Sebelum isu FTSE ini, IHSG sebenarnya masih terbebani oleh pernyataan dari MSCI. Ingat saja, pekan lalu indeks kita sempat anjlok 8 persen secara intraday hingga memicu trading halt. Pemicunya adalah pernyataan MSCI yang akan menunda perubahan indeks sampai regulator Indonesia menyelesaikan persoalan kepemilikan saham yang dinilai terlalu terkonsentrasi.
Ditambah lagi dengan penurunan outlook oleh Moody’s dan pemangkasan rekomendasi dari sejumlah sekuritas global, sentimen saat itu benar-benar suram.
Fokus MSCI adalah pada masalah investabilitas, dengan tingkat free float sebagai sorotan utama. Menanggapi ini, BEI dan OJK langsung bergerak cepat. Komunikasi intensif dengan MSCI dijalin, sambil menindaklanjuti catatan-catatan kritis dari lembaga indeks tersebut.
Salah satu langkah nyatanya adalah menurunkan ambang batas kewajiban pengungkapan kepemilikan saham menjadi 1 persen, dari sebelumnya 5 persen. Sekarang, pasar tinggal menunggu keputusan final MSCI sementara diskusi antara mereka dan otoritas Indonesia terus berlanjut.
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.
Artikel Terkait
IHSG Menguat 1,26% di Sesi I, Didorong Sektor Energi dan Properti
FTSE Russell Tunda Review Status Pasar Indonesia hingga Juni 2026
IHSG Hampir Datar di 8.031, Mayoritas Saham Menguat
Harga Emas Antam Naik Rp14.000 per Gram, Sentuh Rp2,95 Juta