Analis: Koreksi IHSG Buka Peluang Akumulasi Saham Unggulan

- Senin, 09 Februari 2026 | 08:00 WIB
Analis: Koreksi IHSG Buka Peluang Akumulasi Saham Unggulan

MURIANETWORK.COM - Tekanan berat yang mengguncang pasar saham Indonesia dalam beberapa pekan terakhir mulai menunjukkan tanda-tanda mereda. Analis menilai fase terburuk dari koreksi tajam yang dipicu kekhawatiran atas status pasar Indonesia di mata MSCI mungkin telah terlampaui. Respons cepat regulator dan prospek fundamental ekonomi yang masih kokoh dinilai membuka peluang akumulasi saham unggulan di harga yang tertekan.

Peluang di Balik Koreksi

Gelombang tekanan jual yang sempat menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun signifikan justru dilihat sebagai momen langka oleh sejumlah analis. Mereka berpendapat, koreksi ini menciptakan kesempatan bagi investor dengan horizon jangka menengah hingga panjang untuk masuk ke dalam saham-saham berkualitas dengan valuasi yang jauh lebih menarik.

Kekhawatiran pasar sebelumnya muncul menyusul peringatan dari MSCI mengenai potensi penurunan status Indonesia ke kategori Frontier Market. Isu investability ini semakin menjadi sorotan setelah mundurnya pimpinan Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Namun, pemerintah dan regulator dinilai tidak tinggal diam.

Respons Cepat Regulator

BEI dan OJK langsung mengambil langkah-langkah konkret dengan berkomunikasi intensif bersama MSCI. Salah satu langkah krusial yang diambil adalah penurunan ambang batas pengungkapan kepemilikan saham menjadi 1 persen, dari sebelumnya 5 persen. Langkah-langkah proaktif ini bertujuan untuk langsung menjawab catatan-catatan yang disampaikan oleh lembaga pemeringkat global tersebut.

Peluang akumulasi ini dinilai sangat terlihat pada sektor-sektor yang berorientasi domestik, seperti perbankan, telekomunikasi, konsumer, dan properti, yang harganya kini berada pada level tertekan. Momentum pembelian ini berpotensi singkat, terutama jika MSCI memberikan umpan balik yang lebih konstruktif ke depannya.

Daya Tahan Ekonomi dan Prospek Jangka Panjang

Di balik gejolak pasar modal, fundamental ekonomi Indonesia dipandang masih memiliki daya tahan yang kuat. Bahkan, ada optimisme bahwa pertumbuhan ekonomi dapat kembali melampaui level 6 persen mulai tahun 2026. Optimisme ini ditopang oleh dua pendorong utama: implementasi penuh sistem pajak digital CORETAX dan posisi strategis Indonesia dalam rantai pasok global.

CORETAX diyakini bukan sekadar alat administrasi, melainkan pengubah permainan (game changer) yang dapat memperkuat struktur fiskal negara. Sistem ini berpotensi meningkatkan kepatuhan pajak dan memperluas basis pajak secara berkelanjutan, sehingga memberikan ruang fiskal yang lebih besar untuk belanja produktif di bidang infrastruktur dan pengembangan SDM.

Secara paralel, posisi geografis yang strategis, populasi usia produktif yang besar, dan tren diversifikasi rantai pasok global (China 1) membuka peluang bagi Indonesia untuk naik kelas. Dengan dukungan ketersediaan mineral kritis dan perbaikan infrastruktur yang berkelanjutan, Indonesia berpeluang bertransformasi menjadi pusat manufaktur berbasis sumber daya yang terintegrasi dengan rantai pasok dunia.

Rekomendasi Sektor dan Emiten Unggulan

Menyikapi kondisi terkini, analis merekomendasikan fokus pada sektor-sektor yang berorientasi domestik dan memiliki karakter defensif. Pada sektor perbankan, saham-saham seperti BBRI, BMRI, dan BRIS menjadi pilihan utama karena dinilai paling siap menangkap gelombang pemulihan ekonomi struktural.

Di sektor telekomunikasi, EXCL diproyeksikan diuntungkan oleh stabilnya persaingan tarif, sementara WIFI menawarkan potensi pertumbuhan seiring masih rendahnya penetrasi internet fixed broadband di dalam negeri. Sektor konsumer dan properti seperti INDF, MYOR, KIJA, PANI, dan ASSA juga diperkirakan akan terdorong seiring membaiknya kondisi fiskal dan daya beli masyarakat.

Pandangan Analis Lain: Peluang Selektif Terbuka

Pandangan serupa juga disampaikan oleh analis lain, yang menilai tekanan pasar justru membuka ruang untuk selektif berinvestasi. Respons cepat regulator terhadap kekhawatiran MSCI dinilai sebagai faktor kunci yang menjaga kepercayaan pasar dan meredam risiko jangka panjang.

Selain penurunan ambang batas pengungkapan, regulator juga memperkenalkan klasifikasi investor yang lebih rinci dan menegaskan rencana peningkatan ketentuan free float minimum secara bertahap. Langkah pemerintah menaikkan batas investasi bagi dana pensiun dan asuransi juga dinilai akan mendorong partisipasi investor institusi domestik, menyeimbangkan dominasi investor ritel di pasar.

“Respons regulasi yang cepat dan proaktif ini kami pandang konstruktif, karena membantu menopang kepercayaan investor sekaligus menurunkan risiko jangka panjang,” tulis analis dalam laporannya.

Memasuki periode pengumuman kinerja perusahaan, perhatian pasar akan tertuju pada pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025 dan laporan keuangan emiten. Laba korporasi diproyeksikan mulai pulih pada 2026, didorong oleh basis yang rendah, prospek pertumbuhan ekonomi, dan dampak suku bunga yang lebih rendah.

Dalam kondisi ini, investor disarankan untuk tetap selektif, menjaga eksposur pada saham defensif, dan melakukan akumulasi secara bertahap. Rekomendasi saham unggulan dari analis ini masih didominasi sektor konsumsi dan telekomunikasi seperti ICBP, MYOR, dan EXCL, serta sektor perbankan dan komoditas dengan valuasi menarik.

Secara keseluruhan, pendekatan konstruktif tetap dipertahankan terhadap saham-saham berorientasi domestik dengan kepemilikan asing yang relatif rendah, yang dinilai mampu bertahan di tengah ketidakpastian pasar yang masih berlangsung.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar