Emas Terjun Bebas, Pasar Logam Mulia Diguncang Aksi Spekulan

- Senin, 02 Februari 2026 | 07:48 WIB
Emas Terjun Bebas, Pasar Logam Mulia Diguncang Aksi Spekulan

Harga emas anjlok di New York pada Jumat malam. Logam mulia itu terlempar jauh, turun 3,14 persen ke level USD 51,85 per unit. Penurunan yang cukup tajam, sekitar 1,68 poin dari posisi sebelumnya.

Menurut data Bloomberg, perdagangan hari itu dibuka di angka USD 51,11. Padahal, penutupan sehari sebelumnya masih bertengger di USD 53,53. Sepanjang sesi, harga sempat berayun liar antara USD 50,09 dan USD 53,32. Volume transaksinya pun tinggi, mencapai 1,132 juta dengan kapitalisasi pasar sekitar USD 1,278 miliar. Kalau kita lihat setahun ke belakang, pergerakan harganya memang ekstrem, dari USD 19,39 hingga USD 57,66.

Koreksi ini seolah menghentikan sejenak kenaikan yang sudah berlangsung cukup lama. Selama ini, reli harga didorong oleh bank-bank sentral yang ramai-ramai membeli emas sebagai lindung nilai dari dolar AS. Investor global juga ikut-ikutan, mencari aset aman di tengah pelemahan nilai mata uang.

Namun begitu, gelombang pembelian terakhir justru datang dari spekulan di China. Mereka mendorong kenaikan harga dengan lebih agresif dalam beberapa pekan terakhir.

“Sekitar tiga atau empat minggu lalu kami telah mengidentifikasi bahwa ini berubah menjadi perdagangan momentum, bukan perdagangan fundamental,”

Kata Jay Hatfield, Kepala Investasi di hedge fund Infrastructure Capital Advisors. Dia melihat, saat harga mulai melonjak, para penasihat perdagangan yang cuma ikut-ikutan tren pun ikut nimbrung. Hasilnya? Gejolak di pasar makin menjadi.

Di sisi lain, ada faktor lain yang bikin investor gelisah. Kekhawatiran atas independensi The Fed, ditambah konfrontasi geopolitik dari Venezuela sampai Iran yang terus menghiasi berita. Semua itu membuat reli logam mulia jadi simbol nyata dari menipisnya kepercayaan terhadap dolar AS.

Momentum ini menarik semakin banyak pembeli. Pemandangan pun jadi tak biasa. Demam emas dan perak melanda, dari Tiongkok sampai Jerman. Situasinya mengingatkan pada tahun 1979-1980, satu-satunya periode dalam sejarah modern di mana pasar mengalami perubahan harga yang sama dramatisnya.

“Untuk ukuran batangan tertentu, stok sudah habis terjual beberapa minggu sebelumnya, namun orang-orang tetap membelinya,”

Kata Sperzel dari Heraeus. Perusahaannya, katanya, beroperasi dengan kapasitas maksimal hanya untuk mencoba memenuhi permintaan yang melonjak itu.

“Orang-orang mengantre berjam-jam di depan toko-toko ini untuk membeli produk,”

Tambahnnya, menggambarkan suasana heboh yang terjadi.

Meski emas yang jadi sorotan, pergerakan paling dramatis justru terjadi pada perak. Pasar perak ini relatif kecil, dengan pasokan tahunan hanya sekitar USD 98 miliar jauh di bawah emas yang mencapai USD 787 miliar. Tapi aksinya luar biasa. Pada hari Jumat itu saja, iShares Silver Trust (SLV), dana ETF perak terbesar, mencatat volume perdagangan fantastis: lebih dari USD 40 miliar. Angka yang sulit dibayangkan untuk pasar yang sering dianggap ‘adik’ dari emas.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler