Pasar saham kita diguncang hebat Rabu pagi (28/1). IHSG anjlok, bahkan sempat nyentuh level penurunan hampir 7 persen begitu perdagangan dibuka. Pemicunya? Pengumuman dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) soal pembekuan sejumlah aksi indeks untuk saham Indonesia.
Tekanan jual ternyata makin menjadi. Di sesi kedua, indeks malah terperosok lebih dalam, kolaps 8,12 persen ke posisi 8.250,58. Situasinya begitu kacau sampai-sampai Bursa terpaksa menghentikan perdagangan sementara selama setengah jam, mulai pukul 13.43 WIB. Pasar baru kembali berdenyut setengah jam kemudian.
Data dari RTI Business menggambarkan betapa parahnya hari itu. Mayoritas saham berwarna merah tepatnya 703 kode saham melemah. Hanya 61 yang mampu bertahan, sementara 36 lainnya stagnan. Transaksi pun membludak, nilai capai Rp 18,8 triliun dengan volume dagang hampir 27 miliar saham.
Menanggapi hal ini, BEI langsung angkat bicara. Corporate Secretary BEI, Kautsar Primadi, menyebut pihaknya akan terus berkoordinasi dengan MSCI dan otoritas pasar modal lain.
“Terkait dengan pengumuman dari MSCI pagi ini, OJK, IDX, dan KSEI akan terus melakukan diskusi dengan MSCI,” ucap Kautsar kepada wartawan.
Menurutnya, BEI sebenarnya sudah berupaya meningkatkan transparansi dengan mempublikasikan data free float di situs resmi. Tapi rupanya, itu belum cukup bagi MSCI.
“Namun jika dirasakan MSCI belum cukup, kami akan terus melakukan diskusi atas transparansi data sesuai proposal MSCI untuk menemukan kesepakatan,” tambahnya.
Kebijakan MSCI sendiri resmi berlaku mulai Selasa (27/1) kemarin. Mereka membekukan semua kenaikan faktor Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS). Tak cuma itu, penambahan saham baru ke dalam indeks MSCI Investable Market Indexes (IMI) juga dihentikan sementara. Pembekuan ini akan berlaku hingga review indeks Februari 2026 nanti.
Di tengah kepanikan ini, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa justru bersikap lebih kalem. Dia menilai penurunan IHSG ini cuma reaksi berlebihan dan bersifat sementara belaka.
“Ya menurut saya IHSG kan jatuh karena berita yang MSCI yang menganggap kita kurang transparan dan banyak goreng-gorengan saham segala macam kan. Persyaratan mereka ya itu manajemen bersih dan free float-nya berapa persen. Ini saya pikir reaksi yang berlebihan, karena kan ini baru laporan pertama kan. Masih ada waktu eksekusi sampai bulan Mei kan,” kata Purbaya di Istana Negara.
Dia mengaku sudah berkoordinasi dengan OJK. Purbaya yakin masalah transparansi ini bisa diselesaikan sebelum tenggat waktu Mei. “Jadi ini hanya syok sesaat,” tegasnya.
Soal isu tata kelola pasar, Purbaya mengingatkan bahwa dia sudah lama mendorong perbaikan, terutama untuk memberantas praktik ‘penggorengan’ saham. “Cuma kemarin mereka geraknya agak pelan atau mungkin masih dalam plan mereka,” ujarnya. Di sisi lain, dia menilai fundamental ekonomi Indonesia masih solid dan koordinasi dengan BEI kini semakin baik.
Minta Investor Tetap Tenang
Ketua Umum PAEI, David Sutyanto, punya pandangan menarik. Dia justru melihat momen sulit ini sebagai peluang untuk perbaikan pasar modal nasional.
"Pasar modal Indonesia memiliki fondasi yang kuat, jumlah investor domestik yang terus bertumbuh, fundamental ekonomi yang relatif solid, serta emiten dengan kualitas bisnis yang kompetitif secara regional," kata David.
Menurutnya, tantangannya adalah meningkatkan infrastruktur regulasi dan transparansi data. Koreksi hari ini, baginya, cuma proses penyesuaian pasar biasa.
"Jika momentum ini dimanfaatkan dengan baik, bukan hanya status Indonesia sebagai emerging market yang dapat dipertahankan, tetapi kualitas pasar modal nasional justru dapat meningkat dan semakin dipercaya oleh investor global," imbuhnya.
Analis dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, sependapat. Pelemahan IHSG ini belum mencerminkan kondisi fundamental ekonomi yang sebenarnya. Pesannya sederhana: jangan panik.
"Dengan adanya penurunan IHSG ini, investor sebaiknya tidak panik dan dapat mempertimbangkan strategi buy on dip," jelas Nafan.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020