Wall Street Terbelah: AI Hangat, Properti dan Pertahanan Terkapar Usai Pernyataan Trump

- Kamis, 08 Januari 2026 | 06:40 WIB
Wall Street Terbelah: AI Hangat, Properti dan Pertahanan Terkapar Usai Pernyataan Trump

Wall Street menutup sesi Rabu (7/1) dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, sentimen terhadap saham teknologi dan AI kembali memanas. Di sisi lain, tekanan justru datang dari sektor keuangan dan properti, yang membuat indeks S&P 500 dan Dow Jones akhirnya merosot.

Nasdaq masih bertahan di zona hijau, naik 0,16% ke level 23.584,28. Tapi itu tak cukup untuk menahan ambruknya Dow Jones yang anjlok hampir 1%, dan S&P 500 yang melemah 0,34% ke 6.920,93 poin. Padahal, awal sesi sempat cerah dengan kedua indeks itu mencetak rekor tertinggi baru.

Pemicu keributan? Beberapa pernyataan dari Presiden Donald Trump. Yang pertama soal perumahan. Trump bilang akan melarang pembelian rumah tapak oleh korporat, sebuah langkah untuk meredam harga. Reaksinya langsung terasa: saham perusahaan akuisisi perumahan seperti American Homes 4 Rent ambrol 4,3%. Raksasa private equity, Blackstone dan Apollo, masing-masing terpental lebih dari 5%. Sektor keuangan S&P 500 pun ikut terkapar, turun 1,4%.

Namun begitu, bukan berarti semua saham properti sengsara. Zillow, platform digitalnya, malah naik lebih dari 2%.

Bank raksasa JPMorgan Chase juga ikut merana, turun 2,3%. Ini terjadi setelah analis Wolfe Research menurunkan rekomendasinya. Tapi tekanan lain datang dari sektor pertahanan. Trump mengancam akan melarang dividen dan buyback saham bagi perusahaan pertahanan yang bermasalah dengan produksi alat militernya. Northrop Grumman dan Lockheed Martin langsung terpukul, anjlok 5,5% dan 4,8%. Trump tak menyebut nama, tapi pasar paham maksudnya.

Di tengah kekacauan itu, investor justru berlarian kembali ke tempat yang nyaman: saham teknologi dan AI. Setelah sempat diragukan karena valuasi yang dianggap terlalu mahal, Nvidia dan Microsoft masing-masing naik sekitar 1%. Alphabet bahkan melesat lebih dari 2%.

Jake Dollarhide, CEO Longbow Asset Management di Tulsa, Oklahoma, melihat pola ini.

"Investor memasuki 2026 dengan pola yang mirip tahun lalu, beli saham teknologi dan lupakan. Rumor bahwa reli AI sudah berakhir ternyata tidak benar," ujarnya.

Memang, valuasi saham secara umum masih terbilang tinggi. S&P 500 saat ini diperdagangkan di kisaran 22 kali estimasi laba. Angka itu turun dari November, tapi masih jauh di atas rata-rata historisnya.

Data ekonomi yang dirilis hari itu cukup beragam. Lowongan kerja AS turun lebih dalam dari perkiraan di November. Laporan ADP juga menunjukkan pertumbuhan tenaga kerja swasta di Desember lebih lemah. Tapi data-data ini sepertinya tak menggeser ekspektasi pasar soal langkah Federal Reserve ke depan. Semua mata kini tertuju ke laporan ketenagakerjaan utama yang akan dirilis Jumat.

Geopolitik juga menyumbang ketidakpastian. AS menyita sebuah kapal tanker Rusia yang terkait Venezuela, bagian dari tekanan Trump untuk mengatur arus minyak di kawasan. Bahkan, isu aneksasi Greenland lewat opsi militer yang diungkap Gedung Putih sehari sebelumnya masih bergaung.

Di bagian lain pasar, reli saham memori dan penyimpanan tampaknya kehabisan napas. Western Digital dan Seagate Technology melepas kenaikan, masing-masing jatuh hampir 9% dan 6,7%. Sementara itu, saham First Solar terjun bebas 10% setelah rekomendasi dari Jefferies diturunkan.

Jadi, Rabu ini Wall Street seperti dua pasar dalam satu. Ada yang masih percaya pada cerita lama soal teknologi, dan ada yang ketakutan dengan kebijakan baru yang datang tiba-tiba. Menjelang akhir pekan, suasana hati pasar jelas masih rentan dan mudah berubah.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar