“Perusahaan-perusahaan minyak sepenuhnya sadar bahwa kami sedang mempertimbangkan untuk melakukan sesuatu. Tetapi kami tidak memberi tahu mereka bahwa kami akan benar-benar melakukannya,” tuturnya.
Kepada NBC News, Trump juga mengaku belum bisa memastikan apakah dia sudah berbicara langsung dengan pucuk pimpinan tiga raksasa minyak AS: ExxonMobil, Chevron, dan ConocoPhillips. “Saya berbicara dengan semua orang,” ujarnya, singkat dan samar.
Respons dari ketiga perusahaan itu beragam. ConocoPhillips menolak berkomentar soal rencana Trump. Chevron tak mau berspekulasi tentang investasi masa depan. Sementara Exxon, sama sekali belum memberi tanggapan.
Menurut kabar yang beredar, Menteri Energi AS Chris Wright akan bertemu dengan eksekutif Exxon dan ConocoPhillips pekan ini. Pertemuan ini dikabarkan Bloomberg News untuk membahas masa industri minyak Venezuela. Seorang pejabat Gedung Putih menyebut Wright akan jadi tokoh kunci dalam kampanye pemerintahan Trump untuk membangun kembali infrastruktur minyak di negara tersebut.
Pemerintahan Trump sendiri terus bersikukuh. Mereka klaim industri minyak AS sangat ingin kembali ke Venezuela, meski hampir dua dekade lalu negara itu menasionalisasi aset perusahaan asing senilai miliaran dolar.
“Mereka sangat ingin masuk ke sana,” kata Trump kepada wartawan pada Minggu (4/1) malam.
Cadangan minyaknya memang luar biasa besar. Tapi sejarah memberikan pelajaran pahit. Pada era 1970-an, pemerintah Venezuela mengambil alih aset energi, termasuk milik ExxonMobil dan ConocoPhillips. Upaya hukum kedua perusahaan untuk mendapatkan ganti rugi miliaran dolar nyaris tak membuahkan hasil.
Giliran pada 2006 dan 2007, nasionalisasi kembali terjadi di bawah Hugo Chávez. Perusahaan asing boleh tetap beroperasi, tapi dengan syarat yang kurang menguntungkan. Exxon dan ConocoPhillips memilih hengkang sepenuhnya.
Chevron beda cerita. Mereka bertahan sampai sekarang, berkat pengecualian terbatas dari sanksi AS. Sementara itu, CEO ExxonMobil Darren Woods menyuarakan kehati-hatian.
“Kami telah mengalami pengambilalihan aset di Venezuela sebanyak dua kali. Kami harus melihat seperti apa kelayakan ekonominya,” katanya kepada Bloomberg News November lalu, ketika ditanya tentang kemungkinan kembali ke Venezuela.
Jadi, antara keinginan politik dan realitas bisnis, tampaknya masih ada jarak yang cukup jauh. Trump mungkin optimis, tapi para pelaku industri punya memori yang panjang.
Artikel Terkait
IHSG Melonjak 54 Poin, Rupiah Justru Tergerus di Awal Perdagangan
Gubernur Fed Serukan Pemotongan Bunga 150 Bps untuk Dongkrak Lapangan Kerja
Harga Minyak Melonjak 3% Usai Gejolak Venezuela dan Ancaman Pasokan Global
Harga Minyak Melonjak 3% Dihantui Ketegangan di Venezuela hingga Timur Tengah