Prabowo: Tanpa Swasembada Pangan dan Energi, Kemakmuran Hanya Mimpi

- Selasa, 06 Januari 2026 | 17:30 WIB
Prabowo: Tanpa Swasembada Pangan dan Energi, Kemakmuran Hanya Mimpi

Tanpa kemandirian di sektor pangan dan energi, sulit bagi Indonesia untuk benar-benar sejahtera. Itulah inti pernyataan tegas Presiden Prabowo Subianto dalam suatu kesempatan. Menurutnya, kemakmuran dan pembebasan dari jerat kemiskinan mustahil tercapai jika bangsa ini masih terus bergantung pada pihak luar untuk dua kebutuhan pokok tersebut.

Pernyataan itu disampaikannya dalam Briefing Awal Tahun 2026, Selasa lalu. Prabowo menekankan, landasan pertama dari strategi transformasi bangsa yang ia usung adalah kemandirian. "Bangsa Indonesia harus berdiri di atas kaki kita sendiri," ujarnya. Dan kunci dari semua itu? Swasembada pangan.

"Esensi-esensinya adalah, yang pertama, bangsa Indonesia harus mandiri. Bangsa Indonesia harus berdiri di atas kaki kita sendiri. Dan di situ, elemen utamanya adalah swasembada pangan," tegasnya.

Bagi Prabowo, kemerdekaan sebuah bangsa punya makna yang dangkal jika tidak mampu menjamin pangan bagi rakyatnya. Ia pun memperluas cakupannya. Bukan cuma beras, tapi juga jagung, singkong, plus berbagai sumber protein harus bisa dipenuhi dari dalam negeri.

Namun begitu, pangan saja tidak cukup. Ada pilar lain yang tak kalah vital: energi. "Kalau kita tergantung dengan bangsa lain untuk energi kita, tidak mungkin kita makmur. Tidak mungkin kita lepas dari kemiskinan," kata Prabowo. Dua hal ini, pangan dan energi, baginya adalah paket yang tak terpisahkan.

Argumennya ternyata bukan tanpa alasan. Ia melihat realitas global yang kian tak menentu. Ambil contoh konflik antara Thailand dan Kamboja. Indonesia selama ini mengimpor beras dari kedua negara itu. Bayangkan saja kalau kita tak punya cadangan sendiri.

"Sekarang, Thailand sama Kamboja perang terus. Setelah perang, negosiasi, gencatan senjata, damai, meletus lagi. Dalam keadaan seperti itu, bayangkan: amankah kita bergantung impor dari negara yang konflik?" ujarnya mempertanyakan.

Masih ada lagi. India, salah satu pemasok pangan kita, juga kerap memanas hubungannya dengan Pakistan. Belum lagi pelajaran berharga dari pandemi COVID-19 dulu. Saat itu, banyak negara langsung menutup keran ekspor. Uang ada, tapi barang tidak datang.

"Kita tidak bisa impor walaupun kita punya uang. Dan impor berarti devisa kita keluar. Jadi Saudara, pangan dan energi harus kita mandiri. Harus kita mandiri," jelas Prabowo, mengulangi poinnya untuk penekanan.

Dengan kata lain, dinamika dunia yang serba tak pasti ini justru mengukuhkan pandangannya. Strategi transformasi menuju kemandirian pangan dan energi bukan sekadar wacana, melainkan sebuah keharusan yang mendesak. Sebuah langkah untuk benar-benar merdeka.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar