Lalu, mengapa dengan semua berita panas ini, harga minyak justru lesu? Ternyata, pasar punya pertimbangan lain.
Analis senior Price Futures Group, Phil Flynn, punya pandangannya.
Ucapnya. Fokus utama pelaku pasar kini justru pada fundamental pasokan yang melimpah.
Mata mereka tertuju pada pertemuan OPEC akhir pekan ini. Mayoritas trader menduga kelompok produsen minyak itu akan mempertahankan kebijakan menahan produksi pada kuartal pertama 2026. Tahun ini dipandang sebagai momen krusial.
Analis Sparta Commodities, June Goh, menegaskan hal itu.
Katanya. Ia menambahkan, permintaan dari China yang diperkirakan tetap kuat di paruh pertama tahun bisa menjadi penopang harga.
Jika melihat ke belakang, kinerja minyak sepanjang 2025 cukup suram. Harga Brent dan WTI masing-masing anjlok hampir 20 persen. Itu adalah penurunan tahunan terburuk dalam lima tahun. Bagi Brent, ini bahkan jadi tahun ketiga berturut-turut merosot sebuah rekor panjang yang suram.
Jadi, ke mana arah harga? Analis Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, melihat kondisi pasar saat ini sebagai hasil tarik-ulur yang kompleks.
Jelasnya. Singkatnya, ketegangan di berbagai penjuru dunia belum cukup kuat untuk mengalahkan bayangan banjir pasokan yang menghantui para trader.
Artikel Terkait
Arab Saudi Buka Keran Investasi Asing, Pasar Modal Siap Sambut Derasnya Modal Global
IHSG Tembus 8.970, Saham Bakrie dan Happy Hapsoro Pacu Rekor Baru
Barang Penumpang LRT Jabodebek Tertinggal Senilai Rp 797 Juta Sepanjang 2025
Pemerintah Siap Lelang 75 Blok Migas Baru untuk Kejar Target Lifting 2026