Wall Street Menanti Data Tenaga Kerja: Penentu Arah Suku Bunga The Fed di 2026

- Sabtu, 03 Januari 2026 | 07:50 WIB
Wall Street Menanti Data Tenaga Kerja: Penentu Arah Suku Bunga The Fed di 2026

Pasar saham AS bersiap untuk ujian berat pekan depan. Setelah libur musim dingin yang relatif tenang, minggu perdagangan penuh pertama di tahun 2026 ini dijanjikan akan penuh dinamika. Sorotan utamanya? Data ketenagakerjaan yang bakal dirilis pada 9 Januari. Laporan ini bukan sekadar angka biasa, melainkan bahan bakar utama yang akan menentukan langkah The Fed ke depan.

Ingat, di sepanjang 2025, kekhawatiran akan pelemahan pasar tenaga kerja mendorong The Fed memangkas suku bunga dalam tiga pertemuan berturut-turut. Kebijakan itu sukses menopang pasar. Namun, apa yang terjadi di 2026 masih jadi teka-teki besar. Para pejabat bank sentral sendiri terbelah pandangannya dalam pertemuan Desember lalu, terutama karena inflasi masih bandel, bertengger di atas target 2 persen yang mereka idamkan.

Eric Kuby, Kepala Investasi di North Star Investment Management, Chicago, punya pandangan menarik.

"Fakta bahwa pasar tenaga kerja mulai melunak benar-benar memberi The Fed alasan kuat untuk mengubah pandangannya soal penurunan suku bunga," ujarnya.

Namun begitu, ada sisi lain yang bikin investor deg-degan. Laporan yang terlalu lemah justru bisa menjadi alarm bahaya. Bisa jadi itu pertanda resesi lebih dekat dari perkiraan kebanyakan orang saat ini. Menurut jajak pendapat Reuters, lapangan kerja Desember diperkirakan hanya bertambah 55.000. Angka ini tak jauh dari kenaikan 64.000 pada November, di mana tingkat pengangguran malah melonjak ke 4,6% level tertinggi dalam lebih dari empat tahun.

Jadi, investor terjepit di antara dua harapan. Di satu sisi, mereka ingin data cukup lemah agar The Fed terus memotong suku bunga. Di sisi lain, mereka takut data itu terlalu buruk dan mengungkap keretakan fundamental ekonomi.

Dengan suku bunga acuan saat ini di kisaran 3,5–3,75%, pasar uang memberi sinyal campuran. Peluang pemangkasan pada pertemuan akhir Januari dinilai kecil. Tapi, peluang untuk potongan seperempat poin pada Maret hampir mencapai 50%. Semuanya tergantung pada data yang akan datang.

Selain ketenagakerjaan, masih ada sederet laporan ekonomi lain yang perlu diwaspadai pekan depan. Data aktivitas manufaktur dan jasa, misalnya. Yang paling ditunggu tentu saja laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) AS bulanan pada 13 Januari. Ini adalah barometer utama untuk mengukur apakah tekanan inflasi benar-benar mereda.

Belum cukup dengan itu, investor juga harus bersiap menyambut musim laporan keuangan kuartal IV. JPMorgan akan membuka kertas kerjanya pada 13 Januari, diikuti oleh raksasa perbankan lainnya sepanjang pekan. Tekanannya tinggi. Saham saat ini diperdagangkan pada valuasi yang secara historis sudah mahal, sehingga pasar sangat mengandalkan pertumbuhan laba yang kuat untuk membenarkan level harga ini.

Secara keseluruhan, ekspektasi memang optimis. Laba perusahaan-perusahaan di indeks S&P 500 diproyeksikan naik 13% untuk tahun 2025, dan melompat lagi 15,5% di 2026. Tapi proyeksi di atas kertas itu harus dibuktikan dengan realita di lapangan. Pekan depan, Wall Street akan mulai mendapat jawabannya.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar