Akibatnya? Operasional pertambangan di semua wilayah IUPK-nya terpaksa dihentikan sementara. Mereka cuma bisa nunggu izin resmi keluar.
Analis dari Stockbit pada Jumat (2/1) lalu menilai, kondisi kayak gini bikin pasar makin khawatir. Kebijakan RKAB emang berpotensi mendongkrak harga komoditas, tapi di sisi lain bisa jadi bumerang yang nahan volume produksi dan penjualan di awal tahun.
Begitu bunyi riset mereka. Masalahnya nggak cuma di situ. Pasar juga masih waspada sama tingginya stok nikel di LME. Per akhir Desember, persediaannya sudah tembus 250 ribu ton, jauh di atas rata-rata tahun 2025 dan posisi awal tahun. Stok yang numpuk segitu tentu aja berpotensi batesin ruang kenaikan harga ke depannya.
Tapi anehnya, meski dibayangi ketidakpastian, sentimen positif dari harga yang menguat tetap aja menggoda investor. Saham-saham emiten tambang pada meroket di lantai bursa.
Hingga penutupan Jumat lalu, PT PAM Mineral Tbk (NICL) melesat hampir 14 persen. Disusul PT Merdeka Battery Materials (MBMA) yang naik 8,77 persen. Lalu ada juga PT Central Omega Resources (DKFT) dan PT Trimegah Bangun Persada (NCKL) yang masing-masing menguat. Bahkan INCO, yang operasionalnya lagi terhenti, sahamnya masih bisa naik 2,42 persen.
Jadi begini ceritanya. Di satu sisi, harga lagi bagus dan pemerintah kelihatan serius jaga harga. Di sisi lain, aturan yang belum jelas malah bikin operasional perusahaan mandek. Sebuah paradoks yang bikin industri tambang kita lagi tarik-ulur antara peluang dan risiko.
Artikel Terkait
SOFA Bentuk Konsorsium Internasional untuk Garap Proyek Waste-to-Energy
Mantan Bos Angkasa Pura II Resmi Pimpin Jasa Raharja
PACK Siapkan Rights Issue Rp3,25 Triliun untuk Restrukturisasi dan Ekspansi
Samsung Kembali! Sambutan Hangat Pelanggan untuk HBM4 Jadi Modal Tempur di Era AI