Danantera Diproyeksikan Jadi Motor Pasar Saham 2026, IHSG Bisa Tembus 9.200

- Kamis, 01 Januari 2026 | 11:15 WIB
Danantera Diproyeksikan Jadi Motor Pasar Saham 2026, IHSG Bisa Tembus 9.200

Kalau bicara soal pasar saham Indonesia di tahun 2026, satu nama terus disebut-sebut bakal jadi penggerak utama: Danantara. Analis dari JPMorgan, dalam risetnya awal Desember lalu, melihat lembaga ini punya peluang serius untuk menjadi 'value-up story' bagi negeri ini. Intinya, mereka yakin Danantara bisa jadi faktor kunci yang mengerek valuasi pasar.

Menurut sejumlah saksi, optimisme ini bukan tanpa alasan. Peran Danantara dinilai makin strategis, mulai dari urusan reformasi BUMN, penyaluran investasi, sampai mendongkrak pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

"Kami meyakini Danantara dapat menjadi faktor penentu yang menggerakkan pertumbuhan ekonomi dalam dua hingga tiga tahun ke depan," kata analis JPMorgan.

Nah, fondasi pentingnya ada di struktur organisasinya. JPMorgan menilai pemisahan peran yang jelas antara BPI Danantara sebagai holding, Danantara Asset Management (DAM), dan Danantara Investment Management (DIM) itu krusial. Dengan struktur ini, kewajiban pelayanan publik dan dorongan untuk mencari untung di BUMN bisa dipisah. Alhasil, kinerja serta imbal hasil perusahaan pelat merah diharapkan bisa naik secara berkelanjutan.

Eksekusi Danantara di tahun 2026 nanti dipandang sebagai katalis utama. Ini yang diharapkan bisa memicu re-rating valuasi pasar.

Di sisi lain, keunggulan Danantara terletak pada fleksibilitasnya. Berbeda dengan anggaran fiskal pemerintah yang punya batasan, Danantara punya ruang lebih luas untuk menghimpun dana dari luar, mengelola investasi, dan menyalurkan belanja pemerintah. Semua itu bertujuan mendorong ekonomi bergerak lebih cepat.

Bicara angka, JPMorgan memproyeksikan kapasitas penyaluran kas Danantara pada 2026 bisa menyentuh sekitar USD12 miliar. Jumlah itu setara dengan tambahan 0,8 persen terhadap PDB Indonesia. Dan itu belum termasuk efek pengganda yang biasanya muncul dari proyek investasi besar.

Respons pasar sejauh ini sudah terlihat cukup positif. Reformasi BUMN yang diinisiasi Danantara rupanya disambut baik investor. Saham-saham BUMN nonbank bahkan catat kinerja lebih baik dari indeks MSCI Indonesia (MXID), unggul lebih dari 25 persen sepanjang tahun ini. Kenaikan valuasi jadi pendorong utamanya.

Pasar tampaknya percaya reformasi ini bisa meningkatkan profitabilitas, dividen, dan return on equity (ROE) BUMN. Ada juga spekulasi menarik yang dicatat JPMorgan: Danantara dikabarkan sedang bersiap menempatkan dana segar sekitar USD1,5 miliar ke pasar saham domestik pada 2026 nanti.

Peran Danantara Investment Management (DIM) juga tak kalah strategis. Lembaga ini dinilai bisa mendukung proyek-proyek prioritas pemerintah tanpa harus terikat batasan defisit fiskal 3 persen yang ketat.

Soal pendanaan, Danantara sepertinya sudah punya persiapan matang. Selain dana dari penerbitan Patriot Bond, mereka telah mengamankan komitmen pembiayaan yang cukup besar, lebih dari USD14 miliar, dari berbagai mitra global. Dana ini siap ditarik kapan saja sesuai kebutuhan proyek.

Dengan pipeline proyek dan sektor prioritas yang makin jelas, investasi diperkirakan akan benar-benar meningkat pada 2026.

Jadi, apa implikasinya untuk pasar saham? JPMorgan memproyeksikan prospeknya akan semakin cerah, berkat kombinasi belanja fiskal pemerintah dan investasi dari Danantara. Dalam skenario dasar, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bisa mencapai level 9.200 di akhir 2026. Potensi kenaikan hingga 10.000 masih terbuka dalam skenario bullish. Namun begitu, dalam skenario bearish, indeks berpotensi terkoreksi ke 7.800. Proyeksi ini berasumsi pertumbuhan laba sekitar 8 persen dengan rasio price to earnings (P/E) di kisaran 15 kali.

Sektor-sektor seperti industri, material, konsumer, dan real estate diperkirakan akan diuntungkan. Pada akhirnya, peran Danantara disebut-sebut bisa menjadi 'swing factor' faktor penentu yang menghidupkan kembali sentimen positif di pasar saham nasional.

Keputusan pembelian atau penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar