Kalau bicara soal pasar saham Indonesia di tahun 2026, satu nama terus disebut-sebut bakal jadi penggerak utama: Danantara. Analis dari JPMorgan, dalam risetnya awal Desember lalu, melihat lembaga ini punya peluang serius untuk menjadi 'value-up story' bagi negeri ini. Intinya, mereka yakin Danantara bisa jadi faktor kunci yang mengerek valuasi pasar.
Menurut sejumlah saksi, optimisme ini bukan tanpa alasan. Peran Danantara dinilai makin strategis, mulai dari urusan reformasi BUMN, penyaluran investasi, sampai mendongkrak pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
"Kami meyakini Danantara dapat menjadi faktor penentu yang menggerakkan pertumbuhan ekonomi dalam dua hingga tiga tahun ke depan," kata analis JPMorgan.
Nah, fondasi pentingnya ada di struktur organisasinya. JPMorgan menilai pemisahan peran yang jelas antara BPI Danantara sebagai holding, Danantara Asset Management (DAM), dan Danantara Investment Management (DIM) itu krusial. Dengan struktur ini, kewajiban pelayanan publik dan dorongan untuk mencari untung di BUMN bisa dipisah. Alhasil, kinerja serta imbal hasil perusahaan pelat merah diharapkan bisa naik secara berkelanjutan.
Eksekusi Danantara di tahun 2026 nanti dipandang sebagai katalis utama. Ini yang diharapkan bisa memicu re-rating valuasi pasar.
Di sisi lain, keunggulan Danantara terletak pada fleksibilitasnya. Berbeda dengan anggaran fiskal pemerintah yang punya batasan, Danantara punya ruang lebih luas untuk menghimpun dana dari luar, mengelola investasi, dan menyalurkan belanja pemerintah. Semua itu bertujuan mendorong ekonomi bergerak lebih cepat.
Bicara angka, JPMorgan memproyeksikan kapasitas penyaluran kas Danantara pada 2026 bisa menyentuh sekitar USD12 miliar. Jumlah itu setara dengan tambahan 0,8 persen terhadap PDB Indonesia. Dan itu belum termasuk efek pengganda yang biasanya muncul dari proyek investasi besar.
Respons pasar sejauh ini sudah terlihat cukup positif. Reformasi BUMN yang diinisiasi Danantara rupanya disambut baik investor. Saham-saham BUMN nonbank bahkan catat kinerja lebih baik dari indeks MSCI Indonesia (MXID), unggul lebih dari 25 persen sepanjang tahun ini. Kenaikan valuasi jadi pendorong utamanya.
Artikel Terkait
Menteri Purbaya Akui Coretax Rumit, Tapi Aktivasi Tembus 11 Juta Akun
Harga Tembaga dan Emas Melonjak, Pemerintah Tetapkan Patokan Baru Awal 2026
Suriah Resmi Ganti Mata Uang, Gambar Tokoh Politik Hilang dari Desain Baru
KRL Jabodetabek Angkut 885 Ribu Penumpang di Hari Terakhir Tahun