“Kondisi tersebut sempat menekan kepercayaan pelaku pasar dan memicu kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2025,” kata Ibrahim.
Perlambatan sempat terasa, seiring penyesuaian konsumsi dan moderasi ekspor. Sentimen pasar bahkan memburuk di paruh pertama tahun, terutama setelah Trump mengumumkan kebijakan tarif resiprokal pada April 2025. Banyak lembaga internasional yang memprediksi risiko perlambatan ekonomi yang lebih dalam.
Tapi, faktanya, ekonomi kita ternyata lebih tangguh. Kinerjanya melampaui banyak perkiraan. Konsumsi rumah tangga masih solid, dan yang menggembirakan, aktivitas investasi tumbuh relatif tinggi. Momentum pertumbuhan di atas 5 persen itu bukan main-main.
Dia menambahkan, pencapaian ini menjadi bukti ketahanan ekonomi Indonesia di tengah guncangan geopolitik dan perang tarif. Ketahanan itu diperkuat oleh bauran kebijakan fiskal dan moneter yang tepat.
“Sekaligus menegaskan keberlanjutan pemulihan ekonomi di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi,” katanya.
Lalu, bagaimana prospek rupiah ke depan? Berdasarkan analisisnya, Ibrahim memprediksi pergerakan rupiah akan fluktuatif. Untuk perdagangan selanjutnya, ia berpotensi ditutup melemah, mungkin di rentang Rp16.770 sampai Rp16.800 per dolar AS.
Artikel Terkait
BSA Logistics Targetkan Rp302 Miliar dari IPO, Mayoritas untuk Akuisisi Perusahaan Afiliasi
WIKA Pangkas Utang Rp3,87 Triliun Meski Rugi Bersih Membengkak
WBSA Jadi Emiten IPO Pertama 2026, Harga Saham Perdana Rp168
WOM Finance Bagikan Dividen Rp46 Miliar, Cair Awal Mei 2026