PT Bumi Resources Tbk (BUMI) akhirnya merampungkan akuisisi besar-besaran atas Jubilee Metals Limited (JML). Perusahaan tambang raksasa itu resmi menguasai 64,98 persen saham JML, atau setara dengan 5,7 juta lembar saham. Nilainya? Tak main-main, mencapai Rp346,93 miliar.
Transaksi bernilai sekitar 31,47 juta dolar Australia ini selesai dilaksanakan pada 18 Desember 2025 kemarin.
Direktur BUMI, RA Sri Dharmayanti, menjelaskan detail langkah korporasi ini dalam keterbukaan informasi ke BEI, Jumat (19/12/2025).
"Perseroan telah melakukan transaksi pengambil bagian atas sejumlah 3.312.632 saham baru yang diterbitkan oleh JML," ujarnya.
Menurut Sri, langkah ini adalah bagian dari rencana transformasi BUMI. Ini sekaligus upaya diversifikasi usaha ke luar sektor batu bara yang selama ini menjadi tulang punggung.
"Transaksi ini akan memberikan dampak positif bagi kegiatan usaha perseroan. Kami yakin ini juga memberi nilai tambah untuk para pemegang saham," tambahnya.
Lalu, seperti apa sebenarnya perusahaan yang dibeli BUMI ini? Jubilee Metals Limited berkantor di Australia Barat dan punya aset tambang emas di Queensland Utara dan Victoria. Perusahaan ini sudah beroperasi sejak 2012, awalnya fokus di area Croydon, Queensland barat.
Kawasan Croydon ini punya cerita panjang. Emas pertama kali ditemukan di sana pada 1885 silam. Pada masa jayanya, wilayah ini pernah memproduksi hingga 1,9 juta ounce emas sebuah rekor yang mengesankan.
Nah, JML punya ambisi besar. Mereka berencana menghidupkan kembali area tambang bersejarah yang sempat terbengkalai itu dengan teknologi modern. Saat ini, aktivitasnya masih di tahap eksplorasi. Namun potensinya diperkirakan sangat besar, dengan cadangan yang bisa mencapai 2 juta ounce.
Di sisi lain, untuk membiayai akuisisi ini, BUMI tidak sepenuhnya mengandalkan kas internal. Sebagian dananya, sekitar Rp340,9 miliar, berasal dari penerbitan obligasi. Tapi itu bukan satu-satunya sumber. Faktanya, BUMI sudah mulai mengakumulasi saham JML sejak lama.
Hingga September 2025 lalu, mereka sudah mengantongi 41,36 persen saham. Caranya beragam, mulai dari private placement, pembelian langsung, hingga debt to equity swap. Akuisisi terbaru ini seperti menyempurnakan penguasaan mereka.
Jadi, langkah BUMI ini jelas bukan sekadar beli saham biasa. Ini adalah gerakan strategis menuju masa depan yang lebih terdiversifikasi, meninggalkan ketergantungan pada batu bara perlahan-lahan. Bagaimana hasilnya? Kita lihat saja nanti.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020