Angka Pengangguran AS Melonjak, Wall Street Lesu dan Berharap pada The Fed

- Selasa, 16 Desember 2025 | 22:15 WIB
Angka Pengangguran AS Melonjak, Wall Street Lesu dan Berharap pada The Fed

Wall Street kembali dibuka dengan catatan merah di awal sesi Selasa (16/12/2025). Suasana hati investor tampak lesu, seiring dengan rilis data-data ekonomi terbaru yang semakin menguatkan sinyal perlambatan di AS. Imbasnya, harapan untuk The Fed melanjutkan pemotongan suku bunga di tahun depan pun kian mengemuka.

Menurut laporan Departemen Tenaga Kerja AS, lapangan kerja memang bertambah pada November lalu. Tapi, jangan senang dulu. Angka pengangguran justru melonjak ke 4,6 persen. Ini jelas menandakan ada yang tak beres di pasar tenaga kerja, yang diduga kuat terkait dengan ketidakpastian akibat kebijakan dagang pemerintahan Trump.

Peter Andersen, pendiri Andersen Capital Management, punya pandangannya sendiri soal angka pengangguran yang naik itu.

"Ya, kenaikan seperti ini memang membuka peluang untuk pemotongan suku bunga lebih lanjut," ujarnya.

"Tapi kita harus hati-hati. Situasinya belum tentu konsisten dan berlanjut. Bisa saja ini hanya fluktuasi sesaat."

Di sisi lain, data yang kontradiktif ini justru disambut positif oleh sebagian pelaku pasar. Setelah sekian lama dibayangi ketidakjelasan karena penutupan pemerintah, akhirnya ada angka resmi yang bisa jadi bahan pertimbangan. The Fed sendiri pekan lalu sudah memangkas suku bunga dan mengakui adanya pelemahan di sektor ketenagakerjaan.

Nah, yang menarik, ekspektasi pasar sekarang jauh lebih agresif dibanding sinyal The Fed. Berdasarkan pantauan LSEG, banyak yang memprediksi potongan suku bunga bisa mencapai 50 basis poin tahun depan. Padahal, bank sentral sebelumnya hanya memberi kode sekitar 25 basis poin. Selisih yang cukup signifikan, bukan?

Faktor lain yang bikin The Fed mungkin akan lebih leluasa bertindak adalah inflasi. Pertumbuhan upah bulanan cuma 0,1 persen, jauh di bawah perkiraan. Ditambah lagi, laporan penjualan ritel AS untuk bulan Oktober yang stagnan alias nol pergerakan. Semua ini seperti memberi lampu hijau untuk kebijakan moneter yang lebih longgar.

Di lantai bursa, pelemahan terlihat jelas. Pada pukul 08.45 waktu setempat, Dow Jones anjlok 23 poin (0,05%). S&P 500 ikut merosot 6,5 poin (0,10%), sementara Nasdaq 100 jadi yang terparah dengan penurunan 43,75 poin atau 0,17%.

Tekanan jual ini sebenarnya adalah lanjutan dari sentimen negatif sesi sebelumnya. Nasdaq bahkan sempat menyentuh level terendah dalam tiga pekan. Pemicunya beragam; mulai dari kebingungan soal arah suku bunga, kekhawatiran saham teknologi yang dinilai terlalu mahal, sampai dengan proses pencarian ketua baru untuk The Fed yang masih berlangsung. Semuanya bikin investor memilih untuk menahan dulu nafsu belinya.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler