Surge Terjun 15%, Laba Tergerus Beban Ekspansi Besar-besaran

- Minggu, 14 Desember 2025 | 13:50 WIB
Surge Terjun 15%, Laba Tergerus Beban Ekspansi Besar-besaran

Harga saham Surge (WIFI) terjun bebas akhir pekan lalu, anjlok 15 persen ke level Rp3.620. Reaksi pasar ini langsung terasa setelah perusahaan merilis laporan keuangan kuartal III-2025 yang mengecewakan. Meski begitu, kalau kita lihat dari awal tahun, saham ini masih menunjukkan performa luar biasa dengan kenaikan fantastis hingga 783 persen.

Laporan itu menunjukkan laba bersih perseroan merosot tajam. Tercatat hanya Rp32 miliar, turun 78 persen dibanding kuartal sebelumnya dan 48 persen secara tahunan. Tekanan profitabilitas ini memang sedang menghantui Surge, yang saat ini tengah gencar-gencarnya membangun jaringan internet di berbagai penjuru Indonesia.

Yang menarik, penurunan laba ini justru terjadi di saat pendapatan perusahaan malah melonjak. Pada kuartal yang sama, pendapatan Surge berhasil menembus angka Rp500 miliar. Akumulasinya sejak Januari 2025 bahkan sudah menyentuh Rp1 triliun. Lalu, di mana masalahnya?

Menurut Direktur Surge, Shannedy Ong, jawabannya ada pada beban bunga yang membengkak.

"Meningkatnya beban bunga yang tercermin dalam Laporan Laba-Rugi Kuartal III 2025 memang menekan laba bersih kami dalam jangka pendek," jelas Shannedy.

Lonjakan beban ini tak lepas dari strategi pendanaan mereka. Surge menerbitkan obligasi untuk membiayai ekspansi besar-besaran ini. Hasilnya, posisi utang obligasi mereka melonjak dari sebelumnya Rp600 miliar menjadi Rp2,5 triliun per 30 September 2025. Di sisi lain, aset perusahaan juga ikut melesat ke angka Rp12,5 triliun.

Shannedy bersikeras bahwa ini bukanlah kerugian, melainkan sebuah investasi.

"Namun, perlu ditekankan bahwa ini adalah Biaya Pertumbuhan (Cost of Growth). Dana Rp2,5 triliun ini adalah modal kerja produktif yang kami tanamkan di depan untuk mematangkan infrastruktur jaringan baru," tegasnya.

Ekspansi Surge memang sedang berjalan pesat. Setelah memenangkan lelang frekuensi 2,4 GHz, rencananya mereka akan memperluas jangkauan ke Pulau Sumatera. Tujuannya tetap sama: menghadirkan internet dengan harga yang terjangkau.

Meski pasar terlihat pesimis, manajemen justru yakin. Mereka percaya semua investasi ini adalah fondasi kuat untuk mendongkrak pendapatan di kuartal-kuartal mendatang. Shannedy, yang merupakan mantan petinggi Qualcomm, menilai koreksi saham WIFI ini wajar dan bersifat sementara. Apalagi, perusahaan sudah mengamankan pendanaan jangka panjang dan mitra strategis dari Jepang, NTT East.

"Masuknya mereka (NTT East) baru terjadi di awal kuartal III. Sinergi operasional, transfer teknologi, dan efisiensi jaringan tidak terjadi dalam semalam," ujar Shannedy.

Ia menambahkan bahwa pasar mungkin belum sepenuhnya melihat nilai dari kemitraan ini. Dampaknya terhadap kinerja keuangan butuh waktu, sekitar 6 hingga 12 bulan untuk diinkubasi. "Ini adalah katalisator pertumbuhan masa depan, bukan sekadar suntikan dana sesaat," pungkasnya. Jadi, semua kini tergantung pada eksekusi di lapangan dan kesabaran investor.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler