Harga Minyak Terseret Isu Perdamaian Ukraina dan Sinyal The Fed

- Rabu, 10 Desember 2025 | 08:36 WIB
Harga Minyak Terseret Isu Perdamaian Ukraina dan Sinyal The Fed

Pasar minyak kembali bergerak turun pada Selasa kemarin. Investor tampaknya sedang mencerna beberapa hal sekaligus: kabar tentang negosiasi perdamaian Ukraina, kekhawatiran pasokan yang justru melimpah, plus menunggu keputusan suku bunga The Fed. Kombinasi faktor-faktor itu membuat sentimen pasar jadi kurang bersemangat.

Brent, patokan minyak global, melemah 55 sen ke posisi USD 61,94 per barel. Sementara minyak AS jenis WTI turun lebih dalam, 63 sen, menjadi USD 58,25 per barel.

Ada harapan, tapi juga kecemasan, terkait perkembangan di Ukraina. Menurut sejumlah analis, jika perang benar-benar berakhir, ekspor minyak Rusia yang selama ini dibatasi bisa mengalir deras ke pasar. Tapi sebaliknya, kalau negosiasi macet, ketidakpastian justru bisa bikin harga bergejolak naik. Jadi, pasar seperti menahan napas menunggu kejelasan.

Di sisi lain, perhatian juga tertuju ke Washington. Pasar memprediksi The Fed kemungkinan akan memotong suku bunga. Kalau itu terjadi, biaya pinjaman turun dan bisa memacu permintaan energi. Tapi itu masih spekulasi.

Yang jelas, kekhawatiran soal pasokan ketat pun mereda. Ladang minyak besar milik Lukoil di Irak sudah kembali berproduksi. Kabar itu cukup untuk mendinginkan sedikit sentimen harga.

Tak cuma minyak, komoditas lain juga ikut merosot.

CPO

Harga CPO untuk kontrak Januari tercatat melemah tipis, 0,15 persen, menjadi MYR 4.079 per ton.

Batu Bara

Nasib serupa dialami batu bara. Kontrak berjangka Newcastle untuk pengiriman Februari turun 0,60 persen, berada di level USD 109,30 per ton.

Nikel

Di London, harga nikel pun tak berkutik. Pelemahan 0,71 persen membawa logam ini ke posisi USD 14.734 per ton.

Timah

Timah juga ikut-ikutan turun, meski sangat tipis hanya 0,07 persen. Harganya sekarang ada di kisaran USD 39.858 per ton. Secara keseluruhan, hari itu pasar komoditas tampak didominasi warna merah.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler