Harga emas dunia menutup pekan lalu di angka yang cukup menarik: USD 4.210 per troy ons. Pencapaian itu terjadi pada Jumat (5/12/2025), mendorong logam mulia itu mendekati level tertingginya sejak akhir Oktober. Apa penyebabnya? Rupanya, sederet data ekonomi dari Amerika Serikat semakin meyakinkan pasar bahwa Federal Reserve bakal memangkas suku bunga dalam waktu dekat.
Meski begitu, kalau dilihat dari pergerakan sepekan penuh, emas spot justru tercatat melemah tipis 0,41 persen. Jadi, ada dinamika yang cukup menarik di sini.
Menurut data yang dirilis Trading Economics, inflasi PCE AS untuk September yang rilisnya sempat molor naik 0,3 persen secara bulanan dan 2,8 persen secara tahunan. Yang patut dicatat, inti PCE justru melunak jadi 2,8 persen dari posisi sebelumnya 2,9 persen. Kombinasi ini, di mana harga barang masih terasa kaku sementara inflasi jasa mulai mendingin, memberi sinyal bahwa tekanan harga secara umum mulai melunak.
Di sisi lain, survei pendahuluan Michigan sedikit membaik ke level 53,3. Yang lebih penting, ekspektasi inflasi masyarakat untuk satu tahun ke depan turun ke 4,1 persen. Untuk jangka lima tahun, ekspektasi itu mereda ke 3,2 persen. Ini semua memperkuat narasi bahwa tekanan harga jangka pendek memang mulai kehilangan tenaga.
Rangkaian sinyal itu, ditambah dengan laporan mengejutkan soal penurunan tenaga kerja sektor swasta versi ADP sebanyak 32.000 orang dan data PHK Challenger yang mencapai 71.321, akhirnya mendorong pasar. Peluang pemangkasan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin kini dipatok sekitar 87 persen. Nah, proyeksi inilah yang memicu penyesuaian posisi dan ikut mengerek harga emas naik di akhir pekan.
Lantas, bagaimana prospek emas untuk sepekan ke depan?
Survei terbaru dari Kitco News menunjukkan perpecahan pandangan. Di kalangan analis Wall Street, sentimen bullish dan netral terbagi rata. Sementara itu, investor retail atau Main Street hampir tidak berubah mayoritas tetap optimis.
“Saya memilih untuk berhati-hati dulu sampai pertemuan The Fed pekan ini usai,” ujar Adrian Day, Presiden Adrian Day Asset Management.
Dia menambahkan, “Meski pemotongan suku bunga kemungkinan besar terjadi, probabilitasnya sudah sangat tinggi dan harganya sudah tercermin di pasar. Risikonya justru ada pada kekecewaan dan koreksi jangka pendek.”
Pandangan berbeda datang dari Rich Checkan, Presiden dan COO Asset Strategies International.
“Naik,” katanya dengan singkat. “Lonjakan harga emas dan perak yang kita lihat pada Kamis dan Jumat lalu sangatlah signifikan. Itu menunjukkan arah pasar dengan jelas,” imbuhnya.
Adam Button, Kepala Strategi Valuta di Forexlive.com, juga berkomentar kepada Kitco News. Menurutnya, data yang keluar pada Jumat lalu jelas bersifat bullish bagi emas.
Secara angka, dari 13 analis yang berpartisipasi dalam survei tersebut, enam orang (atau 46%) memperkirakan harga emas akan naik pekan ini. Enam lainnya memprediksi pergerakan mendatar atau sideway. Hanya satu analis, setara 8%, yang melihat potensi penurunan harga.
Sementara itu, jajak pendapat daring yang melibatkan 163 investor ritel menunjukkan sentimen bullish yang stabil. Sebanyak 113 partisipan, atau 69%, memperkirakan kenaikan. Hanya 24 pemilih (15%) yang memprediksi pelemahan, dan sisanya, 26 investor (16%), memperkirakan harga akan berkonsolidasi.
Agenda ekonomi pekan ini jelas didominasi keputusan bank sentral berbagai negara. Australia, Kanada, AS, dan Swiss semuanya akan mengumumkan kebijakan suku bunganya. Namun, dari semuanya, hanya The Fed AS yang benar-benar diperkirakan akan menurunkan suku bunga acuan.
Pembuka pekan ini adalah keputusan Bank Sentral Australia pada Senin. Selasa pagi, pasar akan menyimak data lowongan kerja JOLTS AS untuk November.
Kemudian, Rabu pagi, giliran Bank of Canada yang akan mengumumkan keputusan moneternya. Setelah itu, semua perhatian akan tertuju ke Washington untuk menanti keputusan The Fed yang diprediksi memangkas suku bunga 25 basis poin serta yang lebih krusial: rilis dot plot dan proyeksi ekonomi terbarunya.
Rangkaian data pekan ini kemudian akan ditutup pada Kamis dengan keputusan kebijakan moneter Swiss National Bank dan laporan klaim pengangguran mingguan AS yang selalu ditunggu.
Artikel Terkait
Taspen Serahkan Santunan Rp283 Juta ke Ahli Waris Guru SD Korban Tabrakan Kereta di Bekasi
SIG Luncurkan Semen Hijau dengan Emisi Karbon 38 Persen Lebih Rendah
ITMG Bagikan Dividen Final Rp992 per Saham untuk Tahun Buku 2025
MDS Retailing Cetak Laba Bersih Rp692 Miliar di Kuartal I-2026, Didorong Lonjakan Penjualan Luar Jawa