LIVE Siapkan Strategi Baru untuk Bangkit dari Tren Penurunan Laba

- Rabu, 26 November 2025 | 13:40 WIB
LIVE Siapkan Strategi Baru untuk Bangkit dari Tren Penurunan Laba

PT Homeco Victoria Makmur Tbk, atau yang akrab disingkat LIVE, sudah menyiapkan sejumlah langkah strategis. Targetnya, performa perusahaan di tahun 2026 bisa jauh lebih baik ketimbang tahun sebelumnya.

Ellies Kiswoto, selaku Direktur Utama, membeberkan rencana mereka. Strategi pemasaran akan dijalankan dengan beberapa pendekatan. Mulai dari diversifikasi produk, memperluas kolaborasi di sektor B2B, hingga menjalin kemitraan dengan berbagai lembaga, baik swasta maupun pemerintah.

"Ekspansi wilayah penjualan juga menjadi fokus utama," ujarnya dalam sebuah public expose virtual, Rabu (26/11/2025).

Di sisi lain, inovasi produk tetap tak kalah penting. Ellies menekankan, perusahaan akan terus berupaya menciptakan produk berkualitas tinggi yang mengedepankan aspek keberlanjutan. Hal ini dinilai sejalan dengan tren yang kini semakin digemari masyarakat.

Meski begitu, soal anggaran belanja modal atau capex untuk 2026, perusahaan justru bersikap lebih hati-hati. Anggarannya tak terlalu besar. Rencananya, dana itu lebih dialokasikan untuk merealisasikan pembayaran uang muka atas aset yang sebenarnya sudah diterima sejak 2025.

"Capex tersebut peruntukannya adalah sebagai penunjang produksi yaitu pembelian mold dan mesin serta penunjang penjualan seperti untuk perolehan peralatan dan perlengkapan kantor," jelas Ellies lagi.

Langkah ini tak lepas dari evaluasi yang dilakukan manajemen. Sebelumnya, LIVE terpaksa melakukan penyesuaian terhadap target kinerja mereka hingga akhir 2025. Setelah melihat realita di tiga kuartal pertama tahun ini, mereka merasa perlu merevisi proyeksi.

Revisinya cukup signifikan. Proyeksi pendapatan dipangkas dari sebelumnya Rp363,96 miliar menjadi hanya Rp274,93 miliar. Begitu pula dengan laba bersih, yang turun drastis dari Rp31 miliar menjadi Rp12,46 miliar.

Menurut Inka Widjojo, Direktur Penjualan LIVE, ada beberapa faktor eksternal yang berpengaruh. Daya beli konsumen yang masih lesu, munculnya regulasi baru, cuaca ekstrem, dan persaingan dagang yang ketat disebutkannya sebagai penyebab.

Data per 30 September 2025 pun menggambarkan kondisi yang tak mudah. Meski pendapatan tercatat naik 10,8 persen secara tahunan menjadi Rp204,97 miliar, laba bersih justru anjlok 51,5 persen menjadi Rp10,31 miliar. Situasi yang cukup menantang, memang.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar