Dampak ekonomi dari kebijakan ini diperkirakan akan signifikan. Data menunjukkan bahwa turis China merupakan kontributor terbesar belanja wisatawan asing di Jepang pada kuartal sebelumnya, menyumbang sekitar 27 persen dari total konsumsi yang mencapai 2,1 triliun yen. Hilangnya arus wisatawan ini berpotensi menghambat pemulihan ekonomi Jepang pasca pandemi dan dapat mempengaruhi keputusan moneter Bank of Japan.
Dampak Berantai ke Sektor Perjalanan dan Makanan
Gelombang tekanan jual tidak hanya terjadi di sektor ritel. Saham perusahaan maskapai penerbangan dan perhotelan juga ikut melemah. ANA Holdings tercatat turun 3,4 persen, sedangkan Kyoritsu Maintenance, yang bergerak di bidang penginapan, jatuh hingga 8,1 persen.
Sektor makanan dan restoran juga merasakan dampaknya. Food & Life Companies Ltd., operator restoran sushi Sushiro, mengalami penurunan saham terbesar sejak penawaran umum perdana pada tahun 2017, dengan anjlok hampir 14 persen.
Upaya Damai dan Pelajaran dari Masa Lalu
Sebagai upaya meredakan ketegangan, pemerintah Jepang berencana mengirimkan diplomat seniornya ke China untuk melakukan pembicaraan. Sejarah mencatat bahwa ketegangan serupa pernah terjadi di masa lalu, seperti sengketa Kepulauan Senkaku/Diaoyu pada tahun 2012 yang menyebabkan jumlah kunjungan wisatawan China ke Jepang merosot lebih dari separuh dalam waktu singkat.
Meski demikian, beberapa analis pasar memberikan sudut pandang yang berbeda. Analis dari Jefferies Japan menilai bahwa dampak dari ketegangan ini terhadap penjualan melalui platform e-commerce mungkin tidak akan sebesar dampaknya terhadap penjualan offline. Mereka menilai reaksi pasar saham mungkin berlebihan dan menyarankan untuk melihat dampak pada saluran online dan offline secara terpisah.
Artikel Terkait
Wall Street Fokus pada Laporan Keuangan di Tengah Ketegangan Timur Tengah
INET (Sinergi Inti Andalan Prima) Ekspansi ke Bisnis Perdagangan Peralatan Telekomunikasi
IHSG Naik 6,14%, Saham TRUK Melonjak Lebih dari 100%
Harga CPO Anjlok 6% dalam Seminggu, Pasar Khawatir Produksi Musiman Kalahkan Permintaan