Kisah Hoodia Gordonii: Tanaman Gurun yang Hampir Mengubah Industri Farmasi

- Kamis, 02 Juli 2026 | 17:06 WIB
Kisah Hoodia Gordonii: Tanaman Gurun yang Hampir Mengubah Industri Farmasi

Tanaman kaktus berduri asal Gurun Kalahari Afrika pernah menjadi rebutan perusahaan farmasi terbesar dunia. Bukan karena keindahannya, melainkan karena suku asli Afrika telah menggunakannya selama ribuan tahun untuk menahan lapar dan haus saat berburu. Ketika dunia Barat menyadari potensinya sebagai senjata melawan obesitas, drama besar pun dimulai. Inilah kisah hoodia gordonii yang jarang diceritakan secara lengkap.

Suku yang Hampir Kehilangan Segalanya

Suku Khoisan, atau San Bushmen, dari Afrika Selatan telah memanfaatkan batang hoodia gordonii selama ribuan tahun untuk menekan nafsu makan dan rasa haus dalam perjalanan berburu panjang di gurun yang keras. Bagi mereka, tanaman ini bukan komoditas, melainkan pengetahuan hidup yang diwariskan turun-temurun.

Masalah dimulai pada 1977 ketika senyawa aktif dalam hoodia yang bertanggung jawab atas efek penekan nafsu makan berhasil diisolasi oleh South African Council for Scientific and Industrial Research (CSIR) dan diberi nama P57. Senyawa itu dipatenkan pada 1995 tanpa sepengetahuan atau persetujuan suku San. Ini adalah salah satu kasus biopiracy paling terdokumentasi dalam sejarah industri farmasi modern.

Perebutan Paten oleh Perusahaan Multinasional

Begitu P57 dipatenkan, dunia farmasi bergerak cepat. Pada era 1990-an dan 2000-an, berbagai perusahaan internasional mulai mengembangkan produk berbasis hoodia gordonii dan P57 sebagai obat melawan obesitas. Unilever, salah satu perusahaan konsumer terbesar dunia, membeli lisensi untuk mengembangkan hoodia menjadi produk penekan nafsu makan. Phytopharm, perusahaan riset tanaman asal Inggris, terlibat dalam pengembangan awalnya. Pfizer, raksasa farmasi Amerika, juga mengambil lisensi serupa.

Semua ini terjadi sementara suku San, sumber pengetahuan asli, tidak mendapat satu sen pun kompensasi. Baru setelah tekanan internasional dan negosiasi panjang, CSIR menandatangani perjanjian berbagi manfaat dengan suku San pada 2003, memberikan mereka hak atas sebagian royalti dari komersialisasi hoodia.

Bagaimana P57 Bekerja di Otak

Dari sisi ilmiah, mekanisme kerja P57 terbilang unik. P57 adalah oxypregnane steroidal glycoside yang meningkatkan jumlah adenosine triphosphate (ATP) dalam tubuh. Ini berbeda dari cara kerja obat penekan nafsu makan konvensional yang umumnya memengaruhi neurotransmiter seperti serotonin atau dopamin.

Para ilmuwan menyimpulkan bahwa P57 kemungkinan bekerja di sistem saraf pusat, khususnya memengaruhi neuron di hipotalamus, area otak yang terlibat dalam pengendalian rasa lapar, nafsu makan, dan suhu tubuh. Efek penekan nafsu makan dari ekstrak hoodia juga sebagian diblokir ketika reseptor GPR119 dinonaktifkan, menunjukkan bahwa mekanisme kerjanya lebih kompleks dari yang awalnya dipahami dan melibatkan beberapa jalur biologis sekaligus.

Mengapa Perusahaan Farmasi Mundur

Kisah hoodia gordonii di industri farmasi tidak berakhir dengan produk blockbuster. Justru sebaliknya. Unilever menghentikan proyek hoodia mereka pada 2008 setelah serangkaian kesulitan teknis. Mengekstraksi P57 dalam jumlah yang cukup untuk produksi skala besar ternyata sangat sulit dan mahal. Tanaman hoodia tumbuh sangat lambat dan membutuhkan kondisi lingkungan spesifik yang tidak mudah direplikasi.

Di Brasil, produk berbasis hoodia gordonii dilarang oleh badan pengawas nasional ANVISA pada Februari 2007 karena tidak adanya bukti ilmiah tentang efektivitas dan keamanannya. Kasus yang lebih mengkhawatirkan muncul pada Oktober 2011 ketika FDA memperingatkan konsumen bahwa produk bernama P57 Hoodia yang dipasarkan oleh Huikng Pharmaceutical ditemukan mengandung sibutramine, zat terkontrol yang sudah ditarik dari pasar Amerika Serikat pada Oktober 2010 karena alasan keamanan. Sibutramine dapat meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung secara signifikan. Produk berlabel hoodia yang ternyata mengandung obat berbahaya yang sudah dilarang adalah wajah gelap industri suplemen yang tidak diawasi dengan ketat.

Status Hoodia Hari Ini

Tren hoodia yang dimulai awal 2000-an dan sempat menjadi fenomena besar di industri penurunan berat badan kini sudah meredup. Suplemen yang mengandung hoodia semakin sulit ditemukan. Selain masalah regulasi dan pemalsuan produk, ada ancaman lain yang tidak kalah serius. Akibat pemanenan berlebihan dan pertumbuhan yang lambat, hoodia kini dianggap sebagai spesies yang terancam punah. Tanaman yang hampir mengubah industri farmasi global kini justru berjuang untuk bertahan hidup di habitat aslinya.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags