NeuroAid: Robot Empati dari Pelajar Surabaya untuk Temani Anak Autis

- Sabtu, 27 Desember 2025 | 15:00 WIB
NeuroAid: Robot Empati dari Pelajar Surabaya untuk Temani Anak Autis

Lima pelajar SMPN 1 Surabaya baru saja membawa pulang medali emas dari sebuah olimpiade sains internasional. Tapi, yang bikin karya mereka istimewa bukan cuma prestasinya. Mereka menciptakan sebuah robot bernama NeuroAid, yang dirancang khusus untuk membantu anak-anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) berlatih berkomunikasi dan mengenali emosi.

Gagasan ini muncul dari kepedulian mereka yang tulus. Kalila Zanetta Echaputri, Alya Prashanti Nur Rizqi Setiyono, Zahwa Aliyah Rahma, Afnan Daan Indrawan, dan Harley Fatahillah Yudhaloka Sunoto melihat sendiri betapa terapi untuk anak-anak autis seringkali butuh biaya besar dan waktu yang lama. Nah, dari situlah ide untuk membuat pendamping yang lebih terjangkau dan ramah mulai mengkristal.

Yusuf Masruh, Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, tak bisa menyembunyikan rasa bangganya. Baginya, NeuroAid adalah contoh sempurna dari semangat kurikulum merdeka yang nyata.

"Kami sangat bangga. Anak-anak SMPN 1 Surabaya ini menunjukkan bahwa teknologi di tangan yang tepat bisa menjadi solusi kemanusiaan. Mereka tidak hanya belajar koding atau merakit robot, tapi mereka belajar berempati terhadap sesama, khususnya pada anak-anak istimewa di sekolah inklusif kita," ujar Yusuf Masruh, Sabtu (27/12).

Robot buatan mereka ini punya desain yang ringkas dan mudah dibawa. Cara kerjanya? NeuroAid menggunakan kamera dan mikrofon untuk mengenali wajah dan membaca ekspresi dasar. Lalu, robot itu memberikan respons lewat suara atau tampilan visual yang sederhana. Intinya, ia hadir sebagai teman latihan yang sabar, terstruktur, dan yang paling penting tidak membuat anak merasa tertekan.

Menurut Yusuf, justru konsistensi itulah kunci utamanya.

"Kelebihan NeuroAid ini adalah polanya yang konsisten dan dapat diprediksi. Bagi anak autis, konsistensi itu memberikan rasa aman. Saya melihat ini bisa menjadi alat bantu yang luar biasa untuk sekolah-sekolah inklusif di Surabaya agar anak-anak kita lebih berani berkomunikasi," jelasnya.

Dibandingkan robot impor yang harganya selangit dan sistemnya rumit, NeuroAid sengaja dirancang lebih sederhana dan kontekstual dengan kebutuhan lokal. Ini bukan cuma soal teknologi, tapi tentang memahami situasi di sekitarnya.

Ke depan, mimpi kelima pelajar ini besar. Mereka berharap NeuroAid bisa benar-benar dipakai di sekolah-sekolah inklusif maupun rumah sakit di Surabaya. Dan niat baik itu mendapat angin segar dari Dinas Pendidikan setempat.

"Harapan anak-anak ini sangat mulia. Tugas kami di Dinas Pendidikan sesuai arahan Bapak Wali Kota Eri Cahyadi adalah mengawal agar karya ini tidak berhenti di kompetisi saja. Kami akan coba kaji bagaimana inovasi ini bisa diimplementasikan secara bertahap di lingkungan sekolah,” terang Yusuf.

Pada akhirnya, NeuroAid lebih dari sekadar mesin. Ia adalah bukti nyata bahwa empati dan ilmu pengetahuan, ketika disatukan, bisa melahirkan harapan. Dari sebuah ruang kelas di Surabaya, pesan itu bergaung kuat: bahwa kontribusi berarti bagi masyarakat yang lebih inklusif bisa dimulai dari usia yang sangat muda.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar