Cekcok Batas Tanah Berujung Maut, Pria di Tasikmalaya Tewas Ditebas Tetangga

- Kamis, 20 Agustus 2026 | 11:25 WIB
Cekcok Batas Tanah Berujung Maut, Pria di Tasikmalaya Tewas Ditebas Tetangga

Ketenteraman warga Kampung Ciaren, Desa Karangjaya, Kecamatan Karangjaya, Kabupaten Tasikmalaya, mendadak buyar pada Rabu (19/8/2026) siang. Seorang pria, Tata Hendro (45) alias Danu atau Ki Danu, tewas setelah ditebas tetangganya sendiri. Peristiwa berdarah itu dipicu oleh persoalan batas tanah yang memanas.

Korban ditemukan tewas dengan luka robek di leher di area kebun singkong yang tidak jauh dari rumahnya. Warga yang mengetahui kejadian itu langsung berkerumun di lokasi. Tak lama kemudian, petugas Polsek Karangjaya tiba di tempat kejadian perkara (TKP). Seorang pria berinisial E (35) alias Ayi, yang merupakan tetangga korban, mendatangi polisi dan mengaku bertanggung jawab atas pembacokan tersebut.

Kapolsek Karangjaya Iptu Saptaji membenarkan insiden berdarah antartetangga itu. Ia menerangkan bahwa jarak tempat tinggal pelaku dan korban sangat dekat, masih dalam satu lingkungan kampung. "Tersangka sudah langsung dibawa ke Polres, barusan berangkat. Untuk korban sudah dibawa ke RSUD dr Soekardjo. Jarak rumah korban dan pelaku itu dekat, masih tetanggaan, jarak sekitar 200 meter," kata Saptaji, Kamis (20/8/2026).

Berdasarkan penyelidikan kepolisian, pembacokan maut tersebut berawal dari kesalahpahaman terkait batas tanah. Korban sebelumnya menjual sebidang tanah miliknya kepada seseorang yang berencana mendirikan rumah di lahan yang berbatasan langsung dengan tanah milik Sanusi, ayah tersangka Ayi. "Informasi yang berkembang di lapangan memang masalah batas tanah. Awalnya korban menjual tanah kepada seseorang. Kemudian pembelinya mau membangun rumah," ujar Saptaji.

Gesekan memuncak saat pembeli tanah tengah berbincang dengan Sanusi perihal penempatan material bangunan. Dari dalam rumahnya, korban menyergah hingga memantik adu mulut dan perkelahian fisik dengan Sanusi. "Sanusi sedang berbicara dengan si pembeli tanah, korban ngomong dari dalam rumahnya. 'Naon sia teh ngucik-ngucik wae batas' (apa kamu terus mempermasalahkan batas)," kata Saptaji.

Melihat suaminya terlibat perkelahian dengan korban, istri Sanusi panik dan mengadu kepada putranya, Ayi. Tersulut amarah mendapati kabar sang ayah tengah berduel, Ayi mendatangi lokasi sembari menghunus golok, lalu menebas leher korban di kebun singkong. "Istri Sanusi menghampiri keributan itu, lalu memberitahu anaknya (tersangka). Kemudian anaknya datang membawa golok, sampai terjadi kejadian itu," jelas Saptaji.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.