Aksi Damai Buruh di Morowali Berujung Pemukulan, FSPIM Tuntut Sanksi Tegas

- Kamis, 20 Agustus 2026 | 10:50 WIB
Aksi Damai Buruh di Morowali Berujung Pemukulan, FSPIM Tuntut Sanksi Tegas

Seorang buruh bernama Amin menjadi korban pemukulan saat aksi damai yang digelar Federasi Serikat Pekerja Industri Merdeka (FSPIM) di depan kantor General Affair PT Huayue Nickel Cobalt (HYNC) di Morowali, Sulawesi Tengah, Selasa (18/8/2026). Peristiwa itu terjadi di tengah aksi yang seharusnya berlangsung damai, dan memicu kecaman keras dari serikat pekerja.

Aksi yang diikuti sekitar seratusan pekerja itu bermula dari pesan singkat yang dianggap provokatif oleh oknum sumber daya manusia perusahaan. Pesan itu berbunyi, "Yakin kalian mau aksi?" Alih-alih meredam, pesan tersebut justru memantik massa untuk turun ke jalan. Mereka datang bukan untuk merusak, melainkan menyuarakan keresahan yang selama ini terpendam.

Sejak pukul 08.00 WITA, massa memadati lokasi sambil berorasi. Tiga ban bekas dibakar sebagai simbol kekecewaan. Ketua Umum FSPIM, Komang Jordi, mengatakan bahwa aksi ini terjadi karena komunikasi dengan manajemen sudah buntu. "Kami melihat komunikasi yang terbangun sangat buntu, makanya aksi bisa terjadi hari ini," ujarnya.

Manajemen PT HYNC awalnya terkesan abai. Namun, setelah ketegangan memuncak, pintu negosiasi akhirnya terbuka. Perdebatan panjang yang berlangsung hingga menjelang magrib menghasilkan enam dari empat belas tuntutan yang dipenuhi. Kemenangan itu meliputi penyesuaian jobdesk, peningkatan standar makanan bergizi, ketersediaan alat pelindung diri (APD) yang rutin, serta fasilitas ibadah dan halte bus.

Ketua PUK HYNC, Tesar Anggrian, menghela napas lega, tetapi masih menyimpan sesal. Ia menegaskan bahwa esensi aksi ini adalah keinginan terciptanya hubungan industrial yang harmonis. Namun, di tengah kemenangan itu, terjadi insiden yang mencoreng jalannya aksi.

Saat rombongan bersiap pulang, Amin, anggota FSPIM yang datang dari PUK Qing Shui Eco Material untuk menunjukkan solidaritas, menjadi sasaran amuk petugas keamanan. Menurut saksi mata, Amin tidak melakukan perlawanan berarti, tetapi ia dikeroyok, dipukuli, hingga diinjak-injak. Ia terkapar di tanah dan sempat kritis sebelum dievakuasi dengan ambulans ke klinik IMIP.

Tengah malam, saat sadar dari pingsannya, Amin berkata lirih namun tegas, "Saya baik-baik saja dan siap bangkit untuk melawan. Jangan sampai insiden kemarin ini jadi trauma buat kawan-kawan lainnya. Tapi jadikan insiden kemarin sebagai percikan bara api yang akan membakar semangat perjuangan buat kawan-kawan semuanya."

FSPIM mengecam keras tindakan oknum keamanan tersebut. Mereka menuntut evaluasi terhadap pimpinan Morowali Security Service dan sanksi tegas bagi pelaku pemukulan. Tuntutan ini, menurut mereka, bukan balas dendam, melainkan permintaan akan kepastian hukum dan rasa aman dalam bersuara.

Kemenangan enam poin yang diraih adalah hasil dari keberanian menyuarakan hak. Namun, kekerasan yang menimpa Amin menjadi pengingat pahit bahwa jalan perjuangan buruh di kawasan industri tak pernah mulus. Korlap aksi, Anjes, mengingatkan, "Ini bukanlah akhir dari perjuangan kita. Melainkan baru permulaan dari perjuangan kita di HYNC."

Peristiwa ini menyisakan pertanyaan besar: bagaimana perusahaan akan merespons luka ini, dan bagaimana nasib delapan tuntutan lain yang belum terpenuhi? Satu hal yang pasti, suara buruh tidak akan diam.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.