Mengintip Teknologi di Balik Pakaian yang Adem, Cepat Kering, hingga Anti-UV

- Kamis, 20 Agustus 2026 | 00:18 WIB
Mengintip Teknologi di Balik Pakaian yang Adem, Cepat Kering, hingga Anti-UV

Pernahkah Anda bertanya mengapa sebagian pakaian terasa adem, cepat kering, atau mampu menahan panas meski bahannya tipis? Bagi konsumen, itu mungkin hanya fitur biasa. Namun, di baliknya tersimpan ilmu rekayasa tekstil yang mempelajari serat, struktur material, proses produksi, hingga teknologi yang memberikan fungsi tertentu pada selembar kain.

Kepala Program Studi Rekayasa Tekstil Universitas Islam Indonesia (UII), Rina Afiani Rebia, mencontohkan Uniqlo sebagai gambaran nyata perkembangan teknologi tekstil modern. "Kalau memang di Jepang tuh terkenalnya Uniqlo itu enggak jualan baju, tapi jualan teknologi," katanya saat ditemui di Kampus UII Yogyakarta, belum lama ini.

Menurut Rina, teknologi tekstil memungkinkan pakaian memiliki karakter breathable dan quick dry, sehingga keringat mudah menguap dan pakaian lebih cepat kering. Untuk cuaca dingin, struktur material dapat dirancang agar mempertahankan panas tubuh meski pakaian relatif tipis. "Jadi itu yang sebenarnya dijual di tekstil kalau di industri maju," ujarnya.

Pemahaman Rina tentang teknologi ini tidak hanya berasal dari ruang kuliah di Indonesia. Ia menempuh pendidikan S2 dan S3 selama sekitar lima tahun di Shinshu University, Jepang, yang memiliki program tekstil dari hulu hingga hilir. Di sana, pengembangan tekstil bersinggungan dengan berbagai disiplin ilmu, seperti otomasi dan robotika untuk industri, kimia polimer, Kansei Engineering, hingga advanced polymer untuk material protektif.

Rina juga mendalami tekstil fungsional, terutama untuk kebutuhan medis. Salah satu aplikasinya adalah material non-woven untuk perawatan luka yang dapat mengandung obat atau antibakteri guna mempercepat penyembuhan.

Pengalaman Internasional

Jalur pendidikan internasional juga ditempuh dosen Rekayasa Tekstil UII, Ahmad Satria Budiman. Setelah mengikuti joint degree Textile Engineering di Thailand, ia melanjutkan S2 di KTH, Swedia, pada Department of Fiber and Polymer Technology. "Pas mengerjakan tesis itu saya masuknya ke Division of Fiber Technology. Memang khusus belajar tentang teknologi pengolahan serat," kata Ahmad.

Salah satu riset yang dipelajarinya di Swedia justru berawal dari produk sehari-hari: popok dan pembalut. Material penyerap pada produk tersebut umumnya menggunakan bahan sintetis. Dalam risetnya, material itu dikembangkan menggunakan selulosa berukuran nano sehingga mampu menyerap sekaligus menahan cairan. Contoh ini menunjukkan bahwa teknologi tekstil tidak selalu berakhir sebagai pakaian.

Dari Riset ke Ruang Kuliah

Pengalaman dan keilmuan dari Jepang dan Swedia itu kini dibawa ke ruang kuliah dan laboratorium Rekayasa Tekstil UII. Mahasiswa mempelajari serat, pembuatan material, manufaktur dan pengujian, kimia tekstil, teknologi nano, hingga tekstil fungsional. Mereka juga mendalami sustainable textile, termasuk bagaimana serat, pewarna, dan proses produksi dapat dikembangkan agar lebih ramah lingkungan.

Ahmad menjelaskan bahwa setelah serat menjadi kain atau pakaian, material tersebut masih bisa direkayasa lebih jauh untuk memperoleh fungsi tertentu. "Setelah bahan serat itu jadi material kain, material baju, itu kemudian bisa dirancang lebih lagi. Misalkan ada pakaian antibakteri, pakaian yang sifatnya self-cleaning," ujarnya.

Ketika sebuah pakaian terasa adem, cepat kering, anti-UV, atau tetap hangat meski tipis, orang mungkin hanya melihat produk akhirnya. Namun, dalam rekayasa tekstil, pertanyaannya justru dimulai dari balik pakaian: serat apa yang digunakan, bagaimana struktur materialnya, dan fungsi apa yang dapat direkayasa. Sebab di balik selembar pakaian modern, ada teknologi panjang yang membuat pakaian itu bukan sekadar bisa dikenakan, tetapi juga bisa "bekerja".

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags