AS Deportasi 1.200 WNA ke Liberia dalam Kebijakan Imigrasi Terbesar

- Rabu, 19 Agustus 2026 | 12:30 WIB
AS Deportasi 1.200 WNA ke Liberia dalam Kebijakan Imigrasi Terbesar

Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah mendeportasi sebanyak 1.200 warga negara asing (WNA) ke Liberia, Afrika Barat. Langkah ini merupakan bagian dari penindakan imigrasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dan dilakukan secara besar-besaran.

Pemerintah Liberia mengumumkan bahwa mereka bersedia menerima hingga 1.200 orang yang dipindahkan dari AS dalam kurun waktu satu tahun. Kelompok pertama yang terdiri atas 20 orang dijadwalkan tiba di Liberia pada Kamis (20/8) waktu setempat. Namun, tidak disebutkan secara detail asal negara orang-orang yang dideportasi tersebut.

"Liberia berniat untuk menerima hingga 1.200 orang yang akan dipindahkan dari Amerika Serikat dalam kurun waktu satu tahun," demikian pernyataan resmi pemerintah Liberia. Mereka menegaskan bahwa orang-orang yang dideportasi akan "bebas untuk meninggalkan negara itu kapan pun mereka mau" atau dapat mengajukan permohonan suaka.

Kebijakan ini memperluas cakupan deportasi secara drastis, dengan argumen bahwa pemerintah dapat mengirimkan orang-orang ke negara yang bukan negara asal mereka. Sebelumnya, AS juga telah menggunakan Ghana dan Guinea Khatulistiwa sebagai titik transit utama, meskipun otoritas di sana dengan cepat mengirimkan orang-orang yang dideportasi ke negara asal mereka.

Menurut laporan New York Times, pemerintahan Trump ingin mengirimkan Klimar Abrego Garcia, seorang imigran asal El Salvador yang menjadi simbol deportasi massal, ke Liberia. Garcia sebelumnya secara keliru dideportasi ke El Salvador, negara asalnya.

Dua mantan pejabat Departemen Luar Negeri AS yang enggan disebut namanya mengungkapkan bahwa AS menggunakan kebijakan larangan dan pembatasan visa terhadap negara-negara Afrika untuk menekan mereka agar bersedia menerima orang-orang dari negara ketiga.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.