Kementerian Sosial terus mendampingi warga terdampak gempa bumi di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. Hingga Rabu (19/8), petugas masih berada di lapangan untuk melayani pengungsi, menyalurkan bantuan, mengoperasikan dapur umum, dan melakukan asesmen kebutuhan masyarakat.
Penanganan difokuskan di tujuh kecamatan, yaitu Boawae, Mauponggo, Keo Tengah, Wolowae, Aesesa, Aesesa Selatan, dan Nangaroro. Berdasarkan laporan sementara per 19 Agustus, tercatat 3.042 kepala keluarga atau 12.170 jiwa terdampak.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, menegaskan bahwa perhatian saat ini diarahkan pada pemenuhan kebutuhan warga selama masa tanggap darurat. "Sekarang kita konsentrasi pada kebutuhan warga. Mereka yang masih mengungsi harus bisa makan, punya tempat berlindung yang layak, dan kebutuhan sehari-harinya tersedia. Tim di lapangan terus melihat apa yang masih kurang, itu yang kita tindak lanjuti," ujarnya.
Sebaran warga terdampak bervariasi di tiap kecamatan. Di Boawae tercatat 274 KK atau 1.379 jiwa, Mauponggo 1.268 KK atau 4.229 jiwa, Keo Tengah 456 KK atau 1.437 jiwa, dan Wolowae 196 KK atau 739 jiwa. Sementara itu, di Kecamatan Aesesa tercatat 4.386 jiwa, Aesesa Selatan 970 jiwa, dan Nangaroro 1.759 jiwa.
Warga kini tersebar di sejumlah titik pengungsian, baik secara komunal maupun mandiri. Di Kecamatan Aesesa, pengungsian antara lain berada di Desa Anakoli, Desa Lape, Dadiwuwu, Malaruma, serta sepanjang Jalan Desa Aelape hingga SDLB. Sebagian warga juga memilih mendirikan tenda sendiri di dekat rumah mereka.
Hingga 19 Agustus, enam orang dilaporkan meninggal dunia di Kabupaten Nagekeo. Kemensos bersama pemerintah daerah masih melakukan verifikasi dan validasi data korban meninggal maupun luka-luka. Setelah proses tersebut selesai, ahli waris korban meninggal akan menerima santunan sebesar Rp15 juta per orang.
"Kami menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga yang kehilangan anggota keluarganya. Untuk korban meninggal, setelah datanya terverifikasi, ahli waris akan mendapatkan santunan. Kami akan upayakan prosesnya segera dengan data yang sudah diverifikasi," kata Gus Ipul.
Gempa juga merusak rumah dan fasilitas umum. Data sementara mencatat 4.829 rumah terdampak, terdiri atas 1.702 rumah rusak berat, 560 rusak sedang, dan 2.567 rusak ringan. Selain itu, 110 fasilitas dilaporkan terdampak, meliputi 85 fasilitas pendidikan, delapan fasilitas kesehatan, dan 17 tempat ibadah. Angka ini masih terus diperbarui seiring asesmen di lapangan.
Dapur Umum dan Bantuan Logistik
Untuk memenuhi kebutuhan makan warga, dapur umum Kemensos di Lapangan Kantor Kapet, Kecamatan Aesesa, terus beroperasi. Sejak dibuka pada 17 Agustus, kapasitas produksinya meningkat mengikuti kebutuhan di pengungsian. Pada hari pertama, dapur memproduksi 1.000 porsi, lalu naik menjadi 3.000 porsi pada 18 Agustus, dan 4.000 porsi untuk dua kali makan pada 19 Agustus. Dalam tiga hari, total 8.000 porsi makanan telah disiapkan.
"Jumlah makanan yang disiapkan tentu mengikuti kebutuhan warga. Karena itu, teman-teman yang mengelola dapur umum terus berkoordinasi dengan petugas yang melakukan pendataan. Jangan sampai ada warga yang membutuhkan tetapi belum terlayani," ujar Gus Ipul.
Selain permakanan, logistik kedaruratan juga terus disalurkan. Melalui Sentra Efata Kupang, Kemensos telah mendistribusikan bantuan senilai Rp475.102.995, terdiri atas 206 paket makanan anak, 150 paket family kit, 150 paket kids ware, 213 lembar kasur, 300 lembar selimut, 200 lembar tenda gulung, 101 velbed, 60 paket sandang dewasa, empat unit tenda keluarga, serta dua unit tenda serbaguna. Untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan, Kemensos juga melakukan belanja langsung sebanyak 500 paket sembako.
Artikel Terkait
Mensos Siapkan Santunan Rp15 Juta untuk Ahli Waris Korban Gempa NTT
Gempa M4,8 Guncang Nagekeo, Getaran Terasa seperti Truk Melintas
Gus Ipul Hadiri Jamuan Rakyat di Kalijodo, Bagikan Sembako dan Tegaskan Bansos Tak Boleh Dipotong
Kemensos Kerahkan Bantuan Rp14,65 Miliar untuk Penanganan Gempa NTT