UNY Tegaskan Ospek Tanpa Kekerasan, Maba Diperlakukan Bak Raja

- Kamis, 20 Agustus 2026 | 13:07 WIB
UNY Tegaskan Ospek Tanpa Kekerasan, Maba Diperlakukan Bak Raja

Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menegaskan bahwa pengenalan kehidupan kampus bagi mahasiswa baru (PKKMB) atau ospek di kampusnya bebas dari praktik perpeloncoan. Penegasan ini disampaikan Rektor UNY, Prof. Sumaryanto, di tengah sorotan publik terhadap video mahasiswa baru yang disuruh jalan jongkok di Universitas Negeri Padang (UNP).

Sumaryanto menuturkan, sejak lama UNY telah menanamkan nilai-nilai humanis dalam pelaksanaan ospek. Ia bahkan menyebut maba diperlakukan layaknya raja dan ratu, terutama karena banyak dari mereka datang dari luar Yogyakarta.

"Perlakukan adik-adik (maba) itu sebagai bahkan tamu raja ratu. Ngarsa Dalem (Sri Sultan) kan mengarahkan luar daerah datang ke Jogja itu siapa pun kami perlakukan sebagai raja ratu, termasuk mahasiswa kami," katanya saat ditemui di kampusnya, Kamis (20/8).

Menurut Sumaryanto, larangan kekerasan dalam ospek sudah menjadi komitmen kuat di UNY. "Sejak saya Staf Ahli Direktorat tahun 2000, Dekan Fakultas Olahraga 2003, Wakil Rektor Kemahasiswaan, Rektor. Alhamdulillah ini (tahun ini ospek) paling kondusif, kooperatif. Karena kami tanamkan tidak boleh ada kekerasan baik verbal maupun nonverbal," ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa ospek di UNY dibatasi waktunya dan tidak boleh berlangsung hingga malam. "Kami batasi. Tidak boleh sampai sore. Bahkan dari tahun ke tahun kemarin pukul 11.00 harus sudah selesai. Pukul 13.00 harus clearance, nggak boleh ada lagi ada kegiatan. Kegiatan yang di tingkat fakultas, departemen juga kita batasi. Supaya tidak berpeluang sakit, cedera, atau accident," tuturnya.

Tak hanya itu, Sumaryanto mengaku pernah mengerahkan mobil dinasnya untuk mengevakuasi mahasiswa yang sakit saat ospek. "Bahkan kemarin ada yang sakit, secara khusus pakai mobil dinas saya. Kami evakuasi. Ya, sekali lagi tidak boleh ada kekerasan verbal, kekerasan nonverbal. Apa pun harus humanis, apa pun harus wise, bijak," jelasnya.

Tugas Edukatif dan Semangat Berprestasi

Meski demikian, maba di UNY tetap diberikan tugas selama ospek. Namun, tugas tersebut bersifat edukatif, seperti mendatangi organisasi mahasiswa (Ormawa) di tingkat universitas maupun fakultas. "Hanya mendatangi Ormawa di tingkat universitas bahkan fakultas karena kali ini kita buat display prestasi mahasiswa. Nah, tahun ini satu keping emas entah olahraga, seni, penalaran khusus, minimal nasional saya kasih hadiah dari saya pribadi Rp 10 juta. Nah, kalau UNY ya harus lebih banyak," katanya.

Sumaryanto menekankan bahwa spirit yang ingin dibangun dalam ospek adalah semangat berprestasi. "Spirit apa yang dibangun? Berprestasi. Belajar, berlatih, bertanding. Belajar, berlatih, bertanding di bawah panji-panji Ormawa," ujarnya.

Ia berharap maba merasa nyaman dan tidak takut menjalani ospek di UNY. "Kalau ada (yang ketakutan) mohon saya diberi tahu untuk kami tindak lanjuti. Nah, kami melibatkan beberapa dosen, mahasiswa senior relawan, untuk memperlakukan manusiawi, tidak boleh ada kekerasan," pungkasnya.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.