Iran Serukan AS Akui Kekalahan Strategis di Selat Hormuz

- Sabtu, 15 Agustus 2026 | 11:31 WIB
Iran Serukan AS Akui Kekalahan Strategis di Selat Hormuz

Iran menyerukan Amerika Serikat untuk mengakui kekalahan strategisnya, menyusul pernyataan Presiden Donald Trump yang mengklaim akan segera mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah AS setelah mengalahkan Teheran dalam perang. Seruan itu disampaikan langsung oleh Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Sabtu (15/8/2026).

Gharibabadi menegaskan bahwa justru Washington yang telah mengalami kekalahan serius dalam upaya memaksakan kehendaknya atas jalur perairan strategis tersebut. "Terimalah kenyataan ini sekali dan untuk selamanya; sejauh ini, Anda telah mengalami kekalahan serius dan strategis," ujarnya melalui akun media sosial X pada Sabtu pagi.

Dalam pernyataannya, Gharibabadi juga menekankan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz. "Selat Hormuz adalah milik Iran, saat ini milik Iran, dan akan tetap menjadi milik Iran; selat ini hanya akan ditutup atau dibuka kembali atas perintah Iran," tegasnya.

Ia menambahkan bahwa selama AS menolak mengakui kekalahannya dan terus terlena dalam delusi, Iran akan mempertahankan blokade di selat tersebut. "Dan selama Anda menolak untuk mengakui kenyataan soal kekalahan Anda dan terus terlena dalam delusi Anda, Iran akan terus memberlakukan blokade tersebut," kata Wamenlu Iran itu.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran vital bagi pasokan minyak dan gas global, dan kini menjadi pusat perselisihan terbaru antara Iran dan AS yang telah berkonflik selama beberapa bulan terakhir. Teheran menyatakan menutup selat tersebut sebagai respons atas gelombang serangan AS bersama Israel yang dimulai pada akhir Februari lalu. Berbagai upaya diplomasi untuk membahas pembukaan kembali jalur perairan strategis itu dilaporkan gagal membuahkan hasil konkret.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.