Meneguhkan Semangat Kebangsaan NU Jelang Muktamar ke-35

- Sabtu, 15 Agustus 2026 | 10:01 WIB
Meneguhkan Semangat Kebangsaan NU Jelang Muktamar ke-35

Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 dan dalam rangka memperingati HUT RI ke-81, Ali Masykur Musa, Mudir Aly Idarah Aliyah JATMAN, mengajak seluruh keluarga besar Nahdliyin untuk memperkokoh pondasi bangsa dengan meneguhkan Amanatul Wathaniyah. Menurutnya, semangat kebangsaan tidak boleh luntur dalam perjalanan NU memasuki abad kedua.

“Pergantian kepemimpinan dan dinamika internal tak boleh menggeser orientasi dasar NU sebagai organisasi yang mengabdi pada umat dan bangsa Indonesia. Semangat kebangsaan tidak boleh luntur, siapapun ketua umumnya,” tegas AMM, sapaan karibnya, Sabtu (15/8/2026).

AMM menegaskan bahwa NU tidak boleh dijual. “NU untuk umat, NU untuk bangsa, bukan NU untuk kepentingan diri sendiri,” ujarnya. Pernyataan ini menempatkan kepemimpinan NU dalam kerangka amanah, di mana jabatan dalam organisasi semestinya menjadi sarana berkhidmah, bukan tujuan untuk kepentingan personal.

“NU harus tetap berdiri sebagai kekuatan yang orientasinya melampaui kepentingan individu maupun kelompok,” tegasnya.

Menurut AMM, semangat kebangsaan memiliki akar sejarah yang panjang. Ia mengingatkan pentingnya Amanatul Wathaniyah sebagai komitmen NU sepanjang sejarah. Hubungan NU dengan perjalanan bangsa tidak sekadar dikenang, tetapi harus diukir kembali melalui kontribusi nyata. Kebesaran NU tidak diukur dari jumlah warga, luas struktur organisasi, atau kekuatan politik dan sosial, melainkan dari seberapa jauh NU mampu memberikan jawaban terhadap persoalan bangsa.

“Ukuran yang lebih mendasar adalah seberapa jauh NU mampu memberikan jawaban terhadap persoalan bangsa,” sebutnya.

Dalam pandangan AMM, semangat kebangsaan berakar dalam tradisi NU. Ahlul Wathan menjadi salah satu ruh yang tidak terpisahkan dari perjalanan organisasi. Karena itu, hubungan antara Islam dan Indonesia harus ditempatkan dalam satu tarikan napas. “NU dan negara, Islam dan negara, harus ditarik satu nafas. Ya Indonesia, ya Islam, ya Islam, ya Indonesia,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keislaman dan kebangsaan tidak perlu dipertentangkan; keduanya dapat berjalan dalam satu orientasi pengabdian.

Dalam konteks Muktamar NU ke-35, gagasan memperkokoh Amanatul Wathaniyah memberikan pesan penting tentang arah kepemimpinan organisasi. Siapa pun yang kelak menerima amanah kepemimpinan di NU harus mampu menjaga NU tetap menjadi kekuatan keumatan sekaligus kekuatan kebangsaan. Dengan demikian, gagasan kepemimpinan NU memasuki wilayah yang lebih luas: menjaga keseimbangan antara identitas keislaman, komitmen kebangsaan, dan tanggung jawab kenegaraan.

“Amanatul Wathaniyah, dalam perspektif tersebut, bukan sekadar slogan kebangsaan. Dia menjadi bagian dari ruh perjuangan NU, sebuah kesadaran bahwa ketika Indonesia menghadapi persoalan, NU semestinya hadir bukan sebagai penonton, melainkan sebagai bagian dari solusi,” ujarnya.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags