Hamid Basyaib Soroti Gaya Pidato Prabowo yang Lebih Banyak Guyon daripada Substansi

- Senin, 03 Agustus 2026 | 18:00 WIB
Hamid Basyaib Soroti Gaya Pidato Prabowo yang Lebih Banyak Guyon daripada Substansi

Intelektual Hamid Basyaib menyoroti pidato-pidato Presiden Prabowo Subianto yang belakangan lebih sering menjadi perbincangan karena gaya penyampaiannya, bukan substansinya. Gaya tersebut bahkan memunculkan berbagai istilah yang viral di masyarakat.

"Muncul istilah yang kemudian viral seperti nye-nye-nye-nye gitu, lalu ndasmu gitu, satu terminologi yang sudah dia kemukakan, dia perkenalkan sejak masa kampanye 2024. Lalu, ada belakangan juga di dalam pidato trickle down itu, emang gua pikirin gitu-gitu, lalu ada minta di-delete di-delete dan sebagainya, semuanya jadi viral," kata Hamid dalam program Perspektif di kanal YouTube Terus Terang Media, Minggu (02/08/2026).

Hamid mengaku sejak awal heran mengapa Presiden yang dipilih melalui Pemilu menyia-nyiakan forum kenegaraan yang begitu penting. Padahal, di tempat itu ia bisa menyampaikan pesan-pesan kebangsaan atau kenegaraan yang baik.

"Tapi, cukup banyak diselingi pernyataan-pernyataan yang tidak bermakna seperti itu, dengan sambil banyak guyon gitu. Saya tahu, tentu dalam katakan setengah jam atau 20 menit pidatonya, tentu dia tidak semata-mata guyonan semacam itu, tentu ada isinya juga gitu ya. Tapi, juga yang viral dan memang memakan waktu yang lumayan dalam 20 menit atau 30 menit itu, porsi untuk guyonannya cukup besar," ujar Hamid.

Publik, lanjut Hamid, bahkan sudah hafal pola pidato Presiden Prabowo. Biasanya, ia membully beberapa menteri yang hadir, menyuruh mereka berdiri, lalu melempar guyonan yang ditutup dengan tepuk tangan. Humor dari orang berkuasa atau orang kaya memang kerap disambut tawa berlebihan, meski tidak terlalu lucu. Setelah itu, barulah pidato masuk ke substansi masalah.

"Biasanya, yang viral yang kemudian digemari oleh para penonton, terutama penonton mudanya, tentu saja bukan aspek serius dari pidatonya. Tapi, yang viral ini, yang iconic begini, ndasmu, nye-nye-nye-nye, emang gue pikirin, gemoy, dan sebagainya. Semuanya mungkin cukup menghibur, tapi hampir tidak ada artinya dalam konteks upaya pemajuan kita sebagai bangsa dari segi ekonomi dan sebagainya," kata Hamid.

Hamid menduga, gaya pidato tersebut cukup dipengaruhi oleh penasihat Prabowo untuk membalik citranya selama ini. Sebelumnya, Prabowo dikenal sebagai sosok yang keras, galak, emosional, atau temperamental, terutama saat kampanye. Bahkan, hingga kini masih banyak yang menjadikan video dirinya memukul-mukul meja sebagai meme.

"Dia memukul-mukul meja sampai terguncang-guncang meja di panggung kampanye, ada satu masa ketika sampai Pak Amien Rais di kubu dia waktu itu, 2019, sampai datang menengahi, menyabarkan dia karena dia sudah semakin kelihatan tidak terkendali, memukul meja keras sekali. Itulah citra yang melekat pada Pak Prabowo selama ini," ujar Hamid.

Banyak pihak, termasuk di internal TNI AD, Kopassus, dan pejabat lainnya, yang bisa bersaksi tentang sifat temperamental Prabowo. Kini, perubahannya menjadi kakek-kakek lucu dinilai berlebihan. Hamid berpendapat, Prabowo cenderung meremehkan forum pidato presiden yang sangat berharga, yang biasanya dipersiapkan dengan susah payah dan pengamanan ketat.

"Kita sesalkan kenapa itu sering dipakai untuk menyatakan guyonan-guyonan yang semacam ini, yang mungkin 1 atau 2 kali terasa lucu, tapi kita sangat berharap supaya kebiasaan semacam ini tidak perlu diteruskan. Apalagi, kalau dikonfrontasi situasi negara kita yang masih banyak sekali masalah, dan beliau sebagai Presiden tentu sangat menyadari itu. Saya kira, tidak layak keseriusan masalah semacam itu disampaikan dengan cara-cara yang cenderung mengecilkan keseriusan masalahnya," kata Hamid.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags