AS Cairkan Dana Vaksin USD600 Juta untuk Negara Miskin Setelah Sempat Ditahan

- Kamis, 30 Juli 2026 | 08:15 WIB
AS Cairkan Dana Vaksin USD600 Juta untuk Negara Miskin Setelah Sempat Ditahan

Pemerintahan Donald Trump akhirnya mencairkan dana sebesar USD600 juta yang telah disetujui Kongres untuk program vaksin bagi negara-negara termiskin di dunia. Dana itu sebelumnya ditahan Washington karena kekhawatiran keamanan yang dinilai tidak berdasar, yang diangkat oleh Menteri Kesehatan AS Robert F. Kennedy Jr.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Juni lalu menyatakan bahwa sudah waktunya bagi AS untuk kembali bekerja sama dengan aliansi global Gavi yang berbasis di Jenewa. Organisasi itu membantu negara-negara termiskin membeli vaksin guna melindungi anak-anak dari penyakit seperti campak dan difteri. Rubio mengaitkan langkah ini dengan kekhawatiran Kongres dan "tujuan kita dalam kesehatan global."

Departemen Luar Negeri AS dalam pernyataan pada Rabu (29/7) mengatakan keputusan mencairkan dana diambil setelah Gavi berkomitmen untuk beralih dari vaksin yang mengandung merkuri dan memperluas akses ke alternatif yang lebih baru dan bebas merkuri. Sebulan sebelumnya, Kepala Eksekutif Gavi Sania Nishtar mengungkapkan bahwa pihaknya sedang beralih dari vaksin dengan pengawet berbasis merkuri yang menjadi perhatian Kennedy.

Kelompok anti-vaksin, termasuk salah satu yang didirikan Kennedy, selama beberapa dekade mengklaim bahwa thimerosal pengawet berbasis merkuri dalam vaksin terkait dengan autisme dan gangguan perkembangan saraf lainnya. Klaim itu terus bergulir meskipun banyak penelitian menunjukkan tidak ada masalah keamanan terkait.

Pada Juni 2025, Kennedy mengatakan AS tidak akan lagi memberikan pendanaan apa pun yang mewakili sekitar USD300 juta per tahun karena Gavi mengabaikan keamanan. Ia tidak memberikan bukti untuk mendukung klaimnya.

Sebelumnya, AS menyumbang sekitar 13 persen dari pendanaan Gavi. Organisasi itu telah memulai serangkaian langkah penghematan biaya untuk mengatasi kekurangan dana, yang diperparah oleh pemotongan dari negara-negara berpenghasilan tinggi lainnya.

Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa AS berharap kembali menduduki posisi di dewan Gavi dan akan mengevaluasi dukungan di masa mendatang berdasarkan kinerja, akuntabilitas, dan implementasi reformasi.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags