Sejarah Pengasingan Soekarno di Ende: Pohon Sukun Saksi Lahirnya Gagasan Pancasila

- Rabu, 29 Juli 2026 | 05:15 WIB
Sejarah Pengasingan Soekarno di Ende: Pohon Sukun Saksi Lahirnya Gagasan Pancasila

Menjelang peringatan HUT RI ke-81, kisah pengasingan Presiden pertama RI, Soekarno, di Ende, Nusa Tenggara Timur, kembali mengemuka sebagai bagian penting dalam sejarah bangsa. Selama hampir empat tahun menjalani pengasingan, Soekarno memanfaatkan waktunya untuk membaca, berdiskusi, dan merenungkan masa depan Indonesia. Masa itu diyakini menjadi periode yang membentuk pemikiran Soekarno hingga melahirkan gagasan awal tentang Pancasila sebagai dasar negara.

Soekarno tiba di Ende pada 14 Januari 1934 bersama istrinya, Inggit Garnasih, ibu mertuanya, Ibu Amsi, serta anak angkatnya, Ratna Djuami. Pemerintah kolonial Belanda mengasingkannya ke daerah tersebut untuk memutus hubungan dengan para pendukung perjuangan kemerdekaan. Selama tinggal di Ende, Soekarno menjalani kehidupan sederhana. Ia mengisi hari-harinya dengan membaca buku, berkebun, melukis, menulis naskah drama, serta berdiskusi dengan tokoh agama Islam dan pastor Katolik. Pengalaman itu memperkaya pandangannya tentang toleransi, kebangsaan, dan keberagaman.

Pohon Sukun yang Menjadi Saksi

Salah satu tempat yang paling lekat dengan kisah pengasingan Soekarno adalah sebuah pohon sukun yang menghadap ke Pantai Ende, sekitar 700 meter dari tempat tinggalnya. Di bawah pohon tersebut, Soekarno kerap menghabiskan waktu untuk merenung sambil memandang laut lepas. Dari proses kontemplasi itulah lahir gagasan mengenai nilai-nilai yang kemudian berkembang menjadi rumusan Pancasila. Dalam berbagai catatan, Soekarno menggambarkan suasana laut dan alam Ende sebagai sumber inspirasi yang membantunya memahami makna persatuan, perjuangan, dan ketuhanan.

Setelah Indonesia merdeka, Soekarno kembali mengunjungi Ende pada 1950 dan mengenang pohon sukun yang menjadi saksi perjalanan pemikirannya. Sejak dekade 1980-an, lokasi tersebut dikenal sebagai Pohon Pancasila. Meski pohon sukun asli telah mati pada 1970-an, pemerintah daerah menanam pohon pengganti di lokasi yang sama. Hingga kini, kawasan tersebut menjadi salah satu situs sejarah yang sering dikunjungi masyarakat dan wisatawan untuk mengenang lahirnya gagasan dasar negara Indonesia sekaligus merayakan HUT RI ke-81.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags