Asal-usul Lomba Panjat Pinang: Dari Hiburan Penjajah hingga Tradisi 17 Agustus

- Rabu, 29 Juli 2026 | 06:15 WIB
Asal-usul Lomba Panjat Pinang: Dari Hiburan Penjajah hingga Tradisi 17 Agustus

Setiap 17 Agustus, panjat pinang selalu menjadi salah satu lomba yang paling dinantikan dalam perayaan Hari Kemerdekaan. Namun, di balik kemeriahannya, tradisi ini menyimpan sejarah kelam yang jarang diketahui: lahir dari hiburan para penjajah Belanda pada masa kolonial.

Panjat pinang diperkirakan mulai dimainkan di Indonesia pada tahun 1920 hingga 1930-an. Di wilayah Betawi, permainan ini awalnya disebut ceko. Orang Belanda mengadakan lomba ini dalam berbagai acara, seperti hajatan, pernikahan, pesta ulang tahun, atau kenaikan jabatan. Bahkan, perlombaan ini rutin digelar setiap 31 Agustus untuk memperingati hari ulang tahun Ratu Belanda, Wilhelmina.

Peserta panjat pinang saat itu adalah orang-orang pribumi, sementara kaum Belanda hanya menonton sambil tertawa melihat kesulitan mereka. "Panjat pinang pada saat itu diikuti oleh orang-orang pribumi untuk memperebutkan hadiah, sementara orang-orang Belanda menonton sambil tertawa," demikian catatan yang dikutip dari buku Pusat Data dan Analisa Tempo berjudul Agustusan dari Masa ke Masa.

Hingga kini, panjat pinang masih menyisakan kontroversi. Sebagian pihak menilai tradisi ini menyakitkan karena berasal dari masa kelam penjajahan, di mana rakyat pribumi dipermainkan untuk menghibur kaum kolonial. Namun, ada juga yang melihat makna positif panjat pinang sebagai simbol perjuangan, kerja keras, kekompakan, dan kegigihan untuk meraih tujuan. Setelah Indonesia merdeka, panjat pinang kemudian diadaptasi sebagai lomba rakyat dan menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan HUT RI.

Tradisi Serupa di Berbagai Negara

Selain di Indonesia, permainan serupa dikenal dalam budaya lain. Dalam buku Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal karya Fandy Hutari disebutkan, masyarakat Tiongkok memiliki tradisi mirip panjat pinang bernama qiang gu yang sudah ada sejak zaman Dinasti Ming (1368–1644). Tradisi ini populer di wilayah Fukien, Guangdong, dan Taiwan, meski sempat dilarang pada masa Dinasti Qing karena menimbulkan korban jiwa. Saat Jepang menduduki Taiwan pada 1895, panjat pinang kembali populer dan digelar dalam Festival Hantu. Bedanya, para peserta tidak hanya memanjat pohon pinang tunggal, tetapi sebuah bangunan setinggi empat lantai yang disusun dari batang pinang dan kayu. Beberapa ahli sejarah juga menyebut panjat pinang berakar dari tradisi Hindu-Buddha pada masa sebelum Masehi.

Makna di Balik Lomba

Terlepas dari sejarahnya, lomba panjat pinang memiliki makna yang cukup dalam. Lomba ini menunjukkan semangat dan kekompakan dalam tim untuk mencapai satu tujuan. Mereka harus bekerja sama dan berkorban satu sama lain, baik yang di bawah maupun di atas. Hadiah panjat pinang diibaratkan Kemerdekaan Indonesia, yang harus diperjuangkan bersama untuk meraihnya. Oleh karena itu, panjat pinang juga bisa menggambarkan semangat para pahlawan yang selalu bergotong royong memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags