Surplus Perdagangan 72 Bulan Berakhir, Indonesia Catat Defisit USD1,6 Miliar pada Mei 2026

- Minggu, 19 Juli 2026 | 14:20 WIB
Surplus Perdagangan 72 Bulan Berakhir, Indonesia Catat Defisit USD1,6 Miliar pada Mei 2026

Indonesia mencatat defisit neraca perdagangan sebesar USD1,6 miliar pada Mei 2026, mengakhiri tren surplus beruntun yang telah bertahan selama 72 bulan. Nilai impor tercatat USD24,8 miliar, melampaui ekspor yang hanya mencapai USD23,2 miliar.

Kepala Riset NEXT Indonesia Center, Ade Holis, menilai defisit ini bukan sekadar anomali bulanan, melainkan indikasi melemahnya sektor-sektor penopang utama ekspor nasional. "Berakhirnya surplus perdagangan setelah enam tahun memang menjadi perhatian, tetapi yang lebih penting adalah membaca penyebabnya. Ketika komoditas utama seperti sawit, besi baja, hingga beberapa produk manufaktur mulai melemah secara bersamaan, itu menunjukkan mesin ekspor Indonesia sedang kehilangan tenaga. Jika tidak segera diperkuat, ruang surplus perdagangan kita jelas akan semakin menyempit," ungkapnya di Jakarta, Minggu (19/7/2026).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa secara kumulatif Januari-Mei 2026, neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus USD4 miliar. Nilai ekspor mencapai USD115,4 miliar, naik 3,02 persen secara tahunan, namun tidak mampu mengimbangi lonjakan impor yang tumbuh 15,24 persen menjadi USD111,3 miliar. Akibatnya, bantalan surplus semakin menipis.

Penurunan ekspor pada Mei 2026 sebesar 8,30 persen dibanding bulan sebelumnya disebabkan oleh pelemahan komoditas unggulan seperti minyak sawit, besi dan baja, mesin elektrik, tembaga, hingga produk kimia. Ade menambahkan, struktur ekspor Indonesia masih sangat terkonsentrasi. "Selama periode 2021-2025, sekitar 65,98 persen ekspor nasional hanya ditopang oleh 10 kelompok komoditas, seperti bahan bakar mineral yang menjadi kontributor terbesar, kemudian minyak sawit dan turunannya, besi dan baja, mesin elektrik, serta kendaraan bermotor," paparnya.

Ketergantungan pada sejumlah komoditas membuat kinerja perdagangan Indonesia sangat sensitif terhadap gejolak ekonomi global. NEXT Indonesia Center menekankan pentingnya diversifikasi ekspor bernilai tambah tinggi. "Memperbaiki neraca perdagangan bukan sekadar mengembalikan surplus bulanan. Hal yang lebih penting adalah membangun struktur ekspor yang lebih beragam, bernilai tambah tinggi, dan mampu bertahan menghadapi gejolak ekonomi global. Dengan fondasi seperti itu, ekspor bersih akan menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang," tutur Ade.

Pihaknya menyarankan pemerintah melakukan penguatan sektor ekspor melalui hilirisasi sawit, transisi energi yang realistis, serta mendorong industri manufaktur dan elektronik sebagai mesin pertumbuhan baru guna menjaga resiliensi ekonomi nasional di masa depan.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags