Gabungan Peternak Rakyat Solo Raya melaporkan harga telur di tingkat peternak mengalami kenaikan sekitar 5 persen. Meski masih di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) sebesar Rp 24.000 per kilogram, tren positif ini mulai dirasakan secara bertahap.
Anggota Gabungan Peternak Rakyat Solo Raya, Parjuni, mengatakan harga telur yang sebelumnya berkisar Rp 17.000–Rp 18.000 per kilogram kini naik menjadi Rp 20.000–Rp 21.000. "Jadi memang ada growth naik," ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (18/7). Ia menambahkan, program bantuan pangan untuk stunting yang pernah berjalan pada 2023–2024 bisa menjadi pola untuk mengatasi fluktuasi harga.
Berdasarkan data Badan Pangan Nasional (Bapanas), rata-rata harga telur ayam ras di tingkat peternak secara nasional per 16 Juli 2026 naik 2,2 persen dibandingkan pekan sebelumnya, dari Rp 22.495 menjadi Rp 22.989 per kilogram. Namun, harga di sejumlah daerah masih timpang. Di Sulawesi Utara, harga sudah menembus Rp 27.067 per kilogram atau melampaui HAP, sementara di Banten masih di bawah HAP, yakni rata-rata Rp 21.250 per kilogram.
Di tingkat konsumen, rata-rata harga telur ayam ras nasional naik tipis menjadi Rp 27.798 per kilogram, tetapi masih 7,34 persen di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) konsumen yang dipatok Rp 30.000 per kilogram.
Parjuni berharap pemerintah kembali menggulirkan program bantuan pangan berupa telur dan daging ayam karkas. Menurutnya, faktor yang mempengaruhi harga telur antara lain momen bulan Suro dan penghentian sementara program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama libur sekolah. "Memang mungkin karena kemarin momen di bulan Juni yaitu Suro, kalau di Jawa kan sedikit turun, ditambah mungkin program MBG off kemarin. Jadi itu juga menjadikan demand dari masyarakat itu turun," imbuhnya.
Pada 2023 dan 2024, Bapanas menugaskan ID FOOD melalui Kementerian BUMN untuk menyalurkan bantuan pangan percepatan penurunan stunting. Sebanyak 1,4 juta keluarga penerima manfaat masing-masing mendapat 1 kilogram daging ayam dan 10 butir telur setiap bulan selama tiga bulan. Program ini melibatkan ribuan peternak rakyat dan pelaku UMKM, hingga 2024 tercatat 8.778 peternak, terdiri dari 6.895 peternak ayam petelur dan 1.883 peternak ayam broiler.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mengatakan rencana melanjutkan program bantuan pangan telur dan daging ayam tahun ini masih menunggu keputusan pemerintah. "Belum ada keputusan Rakortas. Tentu nanti kita masih perlu menunggu. Jika dimungkinkan diputuskan, (tentu) kita lakukan," tuturnya.
Meski demikian, Ketut memastikan harga telur dan ayam broiler di tingkat peternak mulai menunjukkan tren positif. Kondisi ini didorong oleh kembali bergulirnya program MBG yang meningkatkan permintaan. "Jadi MBG itu ada pengaruhnya, dengan (sudah) melewati bulan Suro sekaligus juga mulai masuk anak sekolah, (lalu) MBG dimulai, ini merangkak sudah mulai naik. Nah kalau ini sudah dilewati, tentu harga akan mulai terkoreksi positif bagi peternak kita. Tolong biarkan dulu peternak kita menikmati, sehingga mencapai harga acuan yang kita tetapkan," jelasnya.
Berdasarkan data Bapanas, rata-rata harga ayam broiler hidup di tingkat peternak secara nasional per 16 Juli naik 5,53 persen dibandingkan pekan sebelumnya, dari Rp 20.878 menjadi Rp 22.032 per kilogram berat hidup. Secara wilayah, Sumatera Selatan mencatat harga terendah Rp 19.500 per kilogram, sementara Riau tertinggi Rp 26.000 per kilogram. Di tingkat konsumen, rata-rata harga daging ayam ras juga naik meski masih di bawah HAP sebesar Rp 40.000 per kilogram. Adapun rata-rata harga telur ayam ras konsumen nasional per 16 Juli tercatat Rp 37.040 per kilogram, atau 7,4 persen di bawah HAP.
Artikel Terkait
Harga Gabah Tembus Rp7.000 per Kg, Bapanas Sebut Petani Makin Bahagia
Peternak Nilai Harga Telur Rp 24.000 per Kg Belum Ideal, Usulkan Rp 26.500
Bapanas: Kenaikan Harga Gabah Kering Panen Untungkan Petani
Bapanas Pastikan Stok Pangan Aman Hadapi Musim Kemarau, Beras 5,2 Juta Ton