Wimbledon 2026 Catat Sejarah dengan Hadiah Terbesar dan Setara untuk Juara Putra-Putri

- Jumat, 17 Juli 2026 | 17:54 WIB
Wimbledon 2026 Catat Sejarah dengan Hadiah Terbesar dan Setara untuk Juara Putra-Putri

Wimbledon, turnamen tenis paling bergengsi di dunia, akhirnya menorehkan sejarah baru. Pada edisi 2026, total hadiah yang disediakan mencapai £64,2 juta atau sekitar Rp1,4 triliun, naik 20 persen dari tahun sebelumnya. Yang lebih penting, untuk pertama kalinya dalam sejarah panjang turnamen, juara tunggal putra dan putri menerima hadiah yang sama besar: masing-masing £3,6 juta atau sekitar Rp79,2 miliar.

Kesetaraan hadiah ini mungkin terasa wajar saat ini. Namun, sebelum 2007, Wimbledon justru menjadi satu-satunya turnamen Grand Slam yang memberikan hadiah lebih besar kepada juara putra. Perubahan ini tidak terjadi dalam semalam, melainkan hasil perjuangan panjang para petenis perempuan yang berani bersuara.

US Open menjadi pionir pada 1973, setelah legenda tenis Billie Jean King mengancam akan memboikot turnamen jika hadiah untuk perempuan tidak setara. Australian Open menyusul pada 2001, French Open pada 2006, dan Wimbledon baru bergabung pada 2007 setelah mendapat tekanan dari berbagai pihak, termasuk Venus Williams.

Setelah menjuarai Wimbledon pada 2005, Venus Williams memanfaatkan posisinya untuk menyuarakan ketidakadilan. Ia berbicara langsung di hadapan Komite Grand Slam, namun tuntutannya belum membuahkan hasil. Pada 2006, Wimbledon masih mempertahankan perbedaan hadiah. Venus pun menulis artikel opini di The Times berjudul 'Wimbledon Has Lost Its Way'. Dalam tulisannya, ia menilai Wimbledon telah mengirim pesan bahwa perempuan adalah 'juara kelas dua'.

Desakan tersebut mendapat dukungan luas, dari Women's Tennis Association (WTA), Billie Jean King, hingga tokoh olahraga dan politik di Inggris. Tekanan yang terus menguat akhirnya membuahkan hasil. Pada Februari 2007, All England Club mengumumkan bahwa mulai Wimbledon 2007, juara tunggal putra dan putri akan menerima hadiah yang sama. Menariknya, Venus kembali menjuarai Wimbledon pada tahun yang sama, menjadikannya petenis putri pertama yang menerima hadiah setara dengan juara putra, Roger Federer.

Meski seluruh turnamen Grand Slam kini telah menerapkan hadiah setara, persoalan belum sepenuhnya selesai. Masih banyak turnamen ATP dan WTA yang menawarkan hadiah lebih rendah bagi petenis perempuan. Sebagai upaya memperkecil kesenjangan, Lawn Tennis Association (LTA) Inggris pada 2025 berkomitmen menyamakan hadiah untuk seluruh turnamen yang mereka selenggarakan paling lambat 2029.

Tantangan Atlet Perempuan Tak Berhenti pada Hadiah

UN Women mencatat, olahraga perempuan kini mendapat perhatian lebih besar. Namun, masih terdapat berbagai kesenjangan: peluang profesional lebih sedikit, pendapatan lebih rendah, sponsor terbatas, hingga fasilitas yang belum setara. Pada 2025, tidak ada satu pun atlet perempuan yang masuk dalam daftar 50 atlet dengan penghasilan terbesar di dunia.

Sebagian pihak berpendapat kondisi itu dipengaruhi oleh jumlah penonton dan pendapatan olahraga perempuan yang lebih kecil. Namun, banyak pihak menilai stereotip dan bias yang telah mengakar selama bertahun-tahun masih menjadi hambatan utama.

Olahraga Perempuan Tunjukkan Pertumbuhan Pesat

World Economic Forum (WEF) mencatat bahwa olahraga perempuan tengah menunjukkan perkembangan signifikan. Menurut Kim Piaget, Insights Lead di WEF, perjuangan menuju kesetaraan hadiah mulai menunjukkan hasil di berbagai cabang olahraga. Meningkatnya perhatian publik, dukungan sponsor, media, dan organisasi olahraga membuat olahraga perempuan semakin membuktikan nilai ekonominya. Dalam empat tahun terakhir, pendapatan olahraga perempuan meningkat sekitar 240 persen secara global.

Tren itu turut mendorong pertumbuhan industri olahraga dunia. Dalam laporan 'Sports for People and Planet' yang diterbitkan WEF bersama Oliver Wyman, nilai industri olahraga global saat ini mencapai sekitar US$2,3 triliun dan diproyeksikan tumbuh menjadi US$8,8 triliun pada 2050. Berkembangnya olahraga perempuan disebut sebagai salah satu faktor utama pendorong pertumbuhan tersebut.

Piaget menegaskan bahwa kesetaraan di dunia olahraga tidak dapat diukur hanya dari besaran hadiah juara. "Dengan semakin besarnya perhatian terhadap olahraga perempuan, didukung data yang semakin kuat serta investasi yang semakin tepat sasaran, kini terbuka peluang yang sangat besar untuk menciptakan persaingan yang lebih setara sekaligus mengubah sistem olahraga secara menyeluruh," katanya.

Riset WEF juga menunjukkan bahwa investasi pada kesetaraan dapat menciptakan ekonomi yang lebih tangguh, produktif, dan sejahtera. Namun, berdasarkan Global Gender Gap Report 2025, dengan laju kemajuan saat ini, dunia masih membutuhkan sekitar 123 tahun untuk mencapai kesetaraan gender secara penuh. Menurut UN Women, olahraga merupakan salah satu sarana penting untuk mempercepat kesetaraan gender. Perempuan yang aktif berolahraga cenderung bertahan lebih lama di bangku pendidikan dan memiliki peluang kerja yang lebih baik.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags