Gelombang Panas di Jerman Tewaskan Ribuan Orang, Ilmuwan Ungkap Metode Hitungnya

- Jumat, 17 Juli 2026 | 17:25 WIB
Gelombang Panas di Jerman Tewaskan Ribuan Orang, Ilmuwan Ungkap Metode Hitungnya

Gelombang panas yang melanda Jerman pada akhir Juni lalu diperkirakan telah menyebabkan lebih dari 5.000 kematian. Angka tersebut merupakan hasil estimasi Robert Koch Institute (RKI) yang menggunakan metode statistik untuk menghitung dampak suhu ekstrem terhadap angka kematian.

Menurut data RKI, pada pekan terakhir Juni tercatat sekitar 23.600 orang meninggal di Jerman, sementara suhu rata-rata mingguan mencapai 26 derajat Celsius. Jumlah itu hampir 30 persen lebih tinggi dibandingkan rata-rata pada periode yang sama di tahun-tahun sebelumnya, yang berkisar 18.200 kematian. RKI memperkirakan bahwa 5.120 kematian terkait panas terjadi pada periode tersebut, dengan 4.310 di antaranya hanya dalam satu pekan terakhir Juni.

Alexandra Schneider, ahli meteorologi dan epidemiologi dari Helmholtz Zentrum München, menjelaskan bahwa estimasi tersebut didasarkan pada analisis statistik yang membandingkan data kematian dengan suhu udara dari Dinas Meteorologi Jerman. "Angka ini merupakan hubungan yang didasarkan pada analisis statistik," ujarnya.

Metode yang digunakan RKI adalah dengan membandingkan angka kematian aktual dengan model yang memperkirakan jumlah kematian jika suhu maksimum tidak melebihi 20 derajat Celsius. Schneider mengakui bahwa metode ini pernah ia kritik di masa lalu karena penggunaan suhu rata-rata mingguan bisa menihilkan lonjakan suhu harian. Namun, kali ini cuaca panas berlangsung terus-menerus, sehingga estimasi dianggap akurat.

Kematian Akibat Dingin Masih Lebih Tinggi

Meski gelombang panas mematikan, angka kematian terkait cuaca dingin di Eropa masih jauh lebih tinggi. Schneider mengatakan bahwa penyakit pernapasan dan gangguan kardiovaskular meningkat saat musim dingin. "Namun, kini terlihat adanya pergeseran secara perlahan," katanya.

Para peneliti juga telah mengkaji apakah pemanasan global akan mengurangi kematian akibat dingin. Hasilnya, dalam berbagai skenario, efek bersihnya tetap meningkatkan jumlah kematian secara keseluruhan. "Peningkatan kematian akibat panas jauh lebih besar dibandingkan penurunan kematian yang berkaitan dengan cuaca dingin," jelas Schneider.

Kematian Akibat Panas Hanya Puncak Gunung Es

Schneider menekankan bahwa jika perhatian hanya difokuskan pada sengatan panas sebagai penyebab kematian, dampak kesehatan akibat suhu tinggi akan sangat diremehkan. "Karena itu digunakan metode statistik untuk melihat dan meneliti hubungan antara panas dengan berbagai penyakit kronis lainnya," ujarnya.

Penelitian yang melibatkan Schneider menunjukkan bahwa panas berkaitan erat dengan meningkatnya kejadian serangan jantung. Suhu udara yang tetap tinggi pada malam hari juga meningkatkan risiko stroke.

Jonas Sonnenstuhl, seorang paramedis di Teltow, Brandenburg, mengatakan bahwa para tenaga kesehatan sudah memahami peningkatan kasus stroke dan serangan jantung saat cuaca panas, yang juga menjadi lebih cepat berakibat fatal. Ia menceritakan pengalaman menangani seorang pasien perempuan berusia 17 tahun dengan kelainan jantung bawaan yang mengalami gejala seperti sesak napas, pusing, dan gangguan kesadaran saat gelombang panas.

Gelombang Panas Bebani Petugas

Gelombang panas juga membawa tantangan bagi petugas ambulans dan tenaga rumah sakit. Pada 28 Juni, saat menjalani dinas 24 jam, Sonnenstuhl mengatakan suhu di dalam ambulans tidak pernah turun di bawah 30 derajat Celsius. Kondisi itu diperberat oleh pakaian kerja tebal dan tuntutan fisik yang berat.

Banyak instalasi gawat darurat rumah sakit dan pos ambulans belum dilengkapi pendingin ruangan. "Baik kami maupun tenaga medis di rumah sakit sama-sama berada di batas kemampuan," ujarnya. Padahal, kemampuan berpikir jernih merupakan syarat mutlak bagi mereka yang bertugas menyelamatkan nyawa.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags