PT Astra Honda Motor (AHM) menyatakan seluruh sepeda motor produksinya telah siap menggunakan bahan bakar campuran bioetanol, termasuk jenis E10. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan menghadirkan kendaraan yang lebih ramah lingkungan.
Executive Vice President AHM Thomas Wijaya mengatakan, perseroan terus mengembangkan teknologi sepeda motor agar lebih efisien dan rendah emisi, baik pada motor listrik maupun model berbahan bakar bensin. "Kita sudah punya motor listrik jadi kita sudah punya 4 model motor listrik. Bahkan keiritan bensin pun kita tingkatkan," kata Thomas dalam acara AHM, Jumat (10/7/2026).
"Bahkan kita juga sudah ready dengan yang namanya menggunakan bensin E10. Jadi memang untuk meningkatkan pembakaran ataupun lebih bersih ataupun lebih emisi karbonnya kita create lebih baik," lanjutnya.
Thomas menambahkan, kesiapan penggunaan E10 sebenarnya bukan hal baru. Teknologi tersebut telah disiapkan sejak satu dekade terakhir. "Terkait E10 sudah ready dalam 10 tahun terakhir. Ini jadi bagian dari kesiapan kami menghadapi perubahan kebutuhan energi," ujarnya.
Senior Manager Public Relations AHM Rina Listiani menyebut, seluruh sepeda motor Honda saat ini sudah kompatibel dengan bahan bakar campuran etanol. "Semua sepeda motor Honda saat ini sudah bisa menggunakan E5 hingga E10 ya. Ini sudah lama, dilakukan secara bertahap sejak 2010 sampai 2015," kata Rina saat dikonfirmasi secara terpisah, Selasa (14/7/2026).
Rina menegaskan, penggunaan BBM dengan kandungan E10 tidak memengaruhi performa. Hal ini juga sudah dicantumkan di buku manual pemeliharaan yang diterima konsumen. "E10 ini juga sudah bisa digunakan oleh sepeda motor Honda yang diproduksi di AHM," ungkapnya.
Ia menjabarkan, seluruh model yang dipasarkan dan diproduksi lokal seperti Honda BeAT, Vario, Stylo, PCX, ADV, hingga CBR dan CRF sudah mendukung penggunaan E10.
Sebagai catatan, E10 merupakan bahan bakar yang mengandung 10 persen bioetanol dan 90 persen bensin konvensional. Bioetanol sendiri berasal dari bahan nabati seperti tebu, singkong, dan jagung.
Penggunaan campuran etanol bertujuan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Selain itu, langkah ini juga diharapkan dapat menekan impor BBM dan menurunkan emisi karbon. Di Indonesia, implementasi bahan bakar campuran etanol sudah dimulai melalui program E5 sejak 2023. Produk ini dikenal di pasar sebagai Pertamax Green 95.
Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menargetkan penerapan E10 dapat berjalan pada 2028 atau bahkan lebih cepat. Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi memperluas pemanfaatan energi baru terbarukan di sektor transportasi.
Artikel Terkait
Pemerintah Siap Jadi Pembeli Utama Etanol Petani untuk BBM E20