Seorang petugas sensus kewalahan saat mendata seorang warga yang mengaku sebagai pekerja serabutan di Jakarta, kemarin. Dalam percakapan yang berlangsung santai, warga tersebut mengaku tidak memiliki pekerjaan tetap dan tidak pernah menghitung penghasilan maupun pengeluarannya setiap bulan.
Petugas sensus yang datang pada siang hari itu awalnya menanyakan tempat kerja warga tersebut. 'Saya ndak kerja,' jawabnya singkat. Petugas sempat tidak percaya, namun warga itu berdalih bahwa jika ia bekerja, ia tidak akan ada di rumah pada jam tersebut. 'Ya kalau saya kerja, siang-siang gini saya masih di kantor, nda bisa bertemu anda to mbak,' ujarnya.
Ditanya soal sumber penghasilan, warga itu menjawab dengan nada bercanda, 'Allah Yang Maha Memberi Rezeki.' Namun, ia kemudian mengklarifikasi bahwa ia melakukan apa saja selama menghasilkan uang. Petugas menyimpulkan bahwa ia bekerja serabutan, dan warga itu membenarkannya.
Ketika ditanya berapa penghasilan per bulan, warga itu mengaku tidak pernah menghitung karena bukan pekerja kantoran. Begitu pula dengan pengeluaran bulanan, ia tidak pernah mencatatnya. Petugas lalu menanyakan biaya internet per bulan, dan dijawab sekitar Rp25 ribu. Petugas heran apakah jumlah itu cukup, dan warga itu menjawab, 'Cukuplah. Kan saya lebih sering numpang wifi.'
Pertanyaan tentang bisnis atau pekerjaan online pun dijawab dengan jujur: tidak punya bisnis, tetapi ada kerja online. 'Apa kerja onlennya?' tanya petugas. 'Ngerjain temen,' jawab warga itu, membuat petugas tertawa sekaligus geleng-geleng kepala. Akhirnya, petugas meminta tanda tangan sebagai bukti sensus dan izin menempelkan stiker, yang disetujui warga tersebut.